Xu Kecheng Melihat Pengobatan kanker usus

News - November 19,2018 00:00 WIB

Post

 

 

 

Kanker usus adalah salah satu kanker umum yang ganas pada sistem pencernaan. Dalam beberapa tahun terakhir peningkatan standar hidup masyarakat dan perubahan pola makan, membuat kanker usus (termasuk kanker usus besar dan kanker anus) terus meningkat, hampir melampaui tren Kanker Paru- paru.

 

 

Prof Xu Kecheng berkata: biasanya, kemoterapi dapat berdampak pada kanker usus, namun karena “kerasnya” kemoterapi tidak terlalu diinginkan, jadi bisa berpikir untuk “setengah dosis kemo.” Hal yang perlu diperhatikan adalah: Dalam studi medis, baru- baru ini (New Zealand Journal) menggaris bawahi sebuah point penting yang perlu diperhatikan. Mengurangi separuh waktu kemoterapi pasien kanker usus besar, tidak akan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup pasien. Namun mengurangi waktu kemoterapi dapat mengurangi efek sampingnya.

 

 

 

Qin qin tidak bisa membayangkan bahwa penyakitnya cepat sekali kambuh. Pada Mei 2016, ia menemukan bejolan di anal, dan juga feses berdarah. Lalu ia pergi ke rumah sakit lokal dan hasil colonoscopy menunjukan kanker rectal. Setelah didiagnosis dengan kanker rectal medium differentiated adenocarcinoma stadium IIA, serta sel- sel kanker yang menyerang otot. Pada bulan Juli ia memutuskan untuk operasi lalu 11 kali kemoterapi serta tinjauan rutin. Saat pemeriksaan tahun 2018 menyatakan banyak lesi yang menyebar di liver. Banyak blok besar pada liver yang terbesar berukuran 19* 11cm, dan banyak nodul di kedua paru dan yang terbesar berukuran 4.4 cm.

 

 

Tidak heran, di klinik tersebut belakang Qin ayi juga seorang pasien kanker usus, seorang wanita. Dengan kanker yang sama, sama- sama menerima kemoterapi, juga kurang dari 2 tahun menyebar ke liver.

 

 

 

1. Setengah Dosis Kemo

 

 

Prof Xu Kecheng berkata: biasanya, kemoterapi efektif terhaap kanker usus, tapi hal penting pada kanker adalah heterogenitas. Dengan kanker yang sama, pada tubuh berbeda, perbedaan gen, perbedaan mood, serta lingkungan hidup menghasilkan respon terhadap pengobatan yang sangat berbeda pula.

  

 

Mari kita lihat dari kondisi Qin, ia sekali lagi mencoba kemo, serta mendapatkan efeknya. Tapi mari kita lihat caranya melakukan kemo adalah kuncinya. Qinqin kurus dan miskin, jadi kemoterapi sistemik dilakukan dengan dosis tinggi untuk jangka waktu yang panjang, itu tidak cukup.

 

Xu Kecheng merasa karena “kerasnya” kemoterapi tidak diinginkan. Kecuali bila pasien tidak ada pilihan lain, atau karena tumor yang berevolusi. Sel- sel kanker akan berkerja satu sama lain untuk menghasilkan “pilihan.” Sebelum menentukan pengobatan, Harus diketahui terdapat 2 jenis sel tumor, yang sensitif dan juga yang tidak sensitif terhadap pengobatan. Jika terdapat keduanya, maka keduanya akan bersaing dan melawan satu sama lain dan berjuang untuk bertahan.

 

 

Perlakuan kasar obat kemoterapi dosis tinggi menghilangkan sel-sel yang sensitif dan menghilangkan "persaingan." Sehingga Sel-sel yang resisten bebas dari persaingan dan merubah diri dari sel yang terhambat menjadi bebas berkembang melalui sistem “seleksi. Ini sebabnya mengapa tumor dapat menyusut setelah kemoterapi sistemik, tetapi hal itu tidak lama dan sel tumor cenderung tumbuh lebih cepat dalam jangka waktu tertentu.

 

 

The science yang dipublikasikan tahun 2016 pun menyatakan hal tersebut. Para ilmuwan Amerika pun mengembangkan “adative terapi” “Adalah mungkin untuk mendapatkan efek terapeutik yang lebih baik daripada kemoterapi konvensional untuk membunuh sel kanker sebanyak mungkin. Terapi dosis obat rendah untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel kanker yang sensitif terhadap obat, sehingga membuat kelompok sel yang toleran berada dalam kondisi tertekan.”

 

“ Selama ini, kami selalu menggunakan stimulasi kimia dosis tinggi karena kami sepakat bahwa semakin tinggi dosisnya, semakin banyak sel yang mati, "kata ilmuwan kanker Robert Gatenby dari Pusat Kanker Moffitt di Florida.

 

“namun, menurut perspektif evolusioner, pengobatan dengan dosis tinggi memang mengendalikan kanker, namun dosis tinggu juga secara tidak sengaja menyaring subkelompok sel yang resisten terhadap obat- obatan kemo. Membuat sel tersebut bebas di lingkungannya tanpa saingan untuk berkembang.”

 

 

Dengan kata lain, terapi adaptasi adalah upaya para peneliti untuk mengubah pola pikir mereka: bukannya membunuh sel-sel kanker secara langsung, kita harus mengendalikan sel-sel kanker secara keseluruhan untuk batas-batas perawatan yang berkelanjutan.

 

 

Demi efektifitas pengobatan, ilmuwan menggunakan 2 model kanker pada tikus: pertama dengan kanker payudara ER negatif dan ER positif.

 

 

Setelah beberapa saat, mereka menemukan bahwa terapi konvensional dan adaptif efektif menghampat pertumbuhan tumor. Namun seteleh obat dihentikan pada terapi konvensional, sel - sel tumor segera melanjutkan pertumbuhannya, sedangkan terapi adaptasi, saat obat dihentikan tidak menyebabkan proliferasi yang cepat pada sel kanker.

 

Jika menggunakan terapi adaptif dan obat terus menerus, pertumbuhan sel kanker dapat terus di pertahankan dalam keadaan tertentu hingga akhirnya obat bisa diberhentikan. Sehingga waktu kelangsungan hidup sekelompok tikus ini juga secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok terapi konvensional.

 

 

Selain itu, perlu dicatat bahwa pada bulan Maret tahun ini, jurnal medis terkenal ( New England Magazine) menerbitkan sebuah artikel penelitian klinis penting, yang mencakup lebih dari 10.000 pasien kanker usus di 12 negara. Para peneliti menemukan bahwa mengurangi setengah waktu kemoterapi tidak akan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup pasien. Teteapi mengurangi waktu penggunaan kemo, secara signifikan mengurangi efek samping obat.

 

Para peneliti juga menemukan bahwa mengurangi waktu kemoterapi dari standar 6 bulan menjadi setengah, yaitu setelah 3 bulan, tidak mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup pasien kanker usus besar.

 

 

 

Selanjutnya, para peneliti membandingkan data kelangsungan hidup selama 3bulan dan enam bulan kemoterapi untuk pasien kanker usus besar di waktu yang berbeda.

 

Mereka menemukan, tidak peduli obat FOLFOX ataupun CAPOX untuk kanker usus besar, 3 bulan atau 6 bulan pengobatan dalam 3 tahun menunjukan tingkat kelangsungan hidup yang tidak jauh berbeda. Selain itu tingkat kelangsungan tahap perkembangan tumor dengan 3 bulan atau kemoterapi 6 bulan tidak berbeda secara signifikan.

 

 

 

 

 

2. Tes genetik

 

 

 

Pada saat yang sama, tahap Qinqin (periode IIA, menyerang lapisan otot), kekambuhan dalam waktu kurang dari 2 tahun jarang ditemukan. Sel kanker yang cepat menyebar merupakan salah satu karakteristik kankernya. Jadi disarankan agar pasien menjalani tes genetik untuk menemukan pengobatan bertarget yang sesuai, Sehingga dengan target yang jelas ini dapat mengubah metode perawatan yang cocok juga.

 

 

 

 

 

Additional:

1. Duration of AdjuvantChemotherapy forStage III Colon Cancer

2.http://www.nejm.org/do/10.1056/NEJMdo005274/full/?requestType=popUp&relatedArticle=10.1056%2FNEJMoa1713709