0851-0461-2299

Tumor Terus Tumbuh Tanpa Menggangu

News - April 09,2019 00:00 WIB

Post

 

 

Baru- baru ini Bibi Chen dari Xiamen merasa sedikit tidak nyaman di bagian perutnya. Setelah pemeriksaan di rumah sakit terdekat, dokter menemukan bahwa terdapat tumor sebesar bola di dalam perutnya. Karena tumornya yang besar mengakibatkan jantungnya melemah, jadi dokter setempat di Xiamen mengatakan bahwa ia harus memasang alat pacu jantung terlebih dahulu. Jadi Bibi Chen melakukan operasi untuk pemasangan alat pacu jantung atas saran dokternya. Tetapi dokter akhirnya mengatakan bahwa tumornya terlalu besar, sehingga operasi menjadi rumit. Putra yang mendengar perkataan dokter ini memutuskan untuk memindahkan Bibi Chen ke rumah sakit lain yaitu RS Kanker Fuda di Guangzhou.

 

 

Tanpa rasa sakit tumor berkembang dengan leluasa.

 

 

Bibi Chen akhirnya ingat, bahwa pada Agustus 2018 ia mulai merasakan bahwa perutnya semakin lama semakin membesar. Namun ia tidak terlalu memperhatikannya karena ia tidak mengalami sakit perut, mual, muntah, diare, ataupun darah pada tinja. Beberapa haripun berlalu, perut Bibi Chen semakin lama semakin besar seperti orang hamil. Pada bulan Febuari, ketika perutnya sudah besar iapun memberitahu putranya. Sesuai pemeriksaan di XIamen, terdapat tumor padat berukuran 27.1* 17.8 cm di dalam rongga panggulnya. Didepan tumor yang begiu besar, rumah saki setempat di Xiamen mengatakan bahwa perlu dilakukan operasi pemasangan alat pacu jantung terlebih dahulu, namun operasi sendiri dapat membahayakan nyawa Bibi Chen.

 

 

Setelah mendengar perkataan dokter di rumah sakit setempat di Xiamen, Bibi Chen segera melakukan operasi pemasangan alat pacu jantung dan menunggu dokter untuk melakukan operasi pengangkatan tumornya setelah operasi pemasangan alat pacu jantung. Namun dokter berkata bahwa operasi menjadi terlalu sulit sehingga harus mendatangkan para ahli dari rumah sakit asing untuk membantu melakukan operasi tersebut. Perubahan rencana ini membuat keluarga Bibi Chen kehilangan kepercayaan diri kepada rumah sakit dan memutuskan untuk pindah.

 

Putra Bibi Chen akhirnya memutuskan untuk membawa ibunya berobat ke RS Kanker Fuda di Guangzhou. Setelah pemeriksaan oleh tim ahli di rumah sakit tersebut. Dr Wang Jiannan beserta ahli lainnyapun langsung melakukan diskusi untuk membuat perencanaan sebelum operas dilakukan. Dr Wang Jiannan merupakan seorang spesialis terkenal dalam bedah umum dan bedah hepatobilier merupakan seorang dokter lulusan Royal College of Medicine. Operasi ini walaupun terlihat mudah,

 

Pada tanggal 0, mengingat sepuluh menit yang mendebarkan yang saya alami belum lama ini, Profesor Wang Jiannan menarik napas dalam-dalam dan tenang sebelum dia mulai menceritakan tentang operasi ini.

 

 

 

Operasi Tumor Raksasa yang Menekan Rongga Perut

 

Dr Wang Jianna berkata “Karena tumor yang besar berisis masa yang padat sehingga menempati sebagian besar ruangan dalam rongga perut. Untungnya resiko pembedahan untuk tumor pada peritonium relatif kecil”

 

 

Jadi ketika Prof Wang Jiannan melihat Bibi Chen pertama kalinya, ia berkata bahwa pasien perlu dirawat di rumah sakit sesegera mungkin. Karena jika tumor terus berkembang dan membesar, maka tumor tersebut akan menekan organ disekitarnya dan kondisi Bibi Chen akan menjadi semakin serius untuk ditangani. Jika terjadi tekanan pada sistem pencernaan, maka Bibi chen akan mengalami gejala- gejala sebagai berikut seperti; tidak bisa makan, mual, muntah, dan tidak bisa buang air besar akibat anus tertekan, dll. Yang paling serius ialah bahwa Bibi Chen bisa juga mengalami kesulitan untuk bernapas yang bisa mengancam nyawanya.

 

 

 

Setelah Bibi Chen dirawat di rumah sakit, para ahli melakukan dua kali diskusi pra- operasi. Mereka sepenuhnya mempertimbangkan resiko- resiko yang bisa saja terjadi saat operasi, sehingga mereka harus menentukan jadwal supaya Prof Niu Lizhi dan juga ahli jantung dapat memberikan panduan di tempat operasi. “Setelah datang ke rumah sakit ini dan melihat bahwa para ahli disini dengan hati- hati memikirkan perawatan untuk ibu saya, saya jadi merasa lega.” kata Putra Bibi Chen kepada para ahli di rumah sakit sebelum melakukan pembedahan.

 

Kehilangan Kesadaran Mendadak Sebelum Operasi

 

Pada 14 Maret, setelah tim Prof Wang Jiannan, Prof Niu Lizhi berserta para ahli jantung siap, Bibi Chen mulai memasuki ruangan operasi. Ketika ahli anastesi Qu bersiap melakukan anastesi, tiba- tiba saja Bibi Chen mengalami gangguan kesadaran, maka ia segera memberi tahu Prof Wang bahwa tiba- tiba saja pasien mengalami kondisi yang tidak mengenakkan. Kondisi yang menurun drastis itu ternyata datang lebih cepat daripada dugaan, Prof Wang langsung mengorganisir tim ahli untuk berdiskusi langsung di ruang operasi. Ahli jantung segera memasang alat pacu jantung dengan akurat pada Bibi Chen, lalu masalahpun teratasi dan semua orang merasa lega.

 

 

 

Setelah perawatan darurat yang hampir saja merengut nyawa, alat pacu jantungpun terpasang disaat darurat. Kesadaran Bibi Chenpun pulih kembali, Prof Wang berulang kali memanggil namanya dan memintanya untuk menggunakan jari menunjuk angka ‘1’ dan ‘2’, ketika Prof Wang melihat bahwa ia dapat menunjuk dengan benar, Prof Wang pun melanjutkan pembedahan. Ahli jantungpun mengkonfirmasikan bahwa kesadarannya sudah kembali, sehingga operasi dapat dilanjutkan sesuai rencana awal.

 

Cerdik Memetik Tumor Besar

 

 

Prof Wang berkata bahwa tumor di antara panggul dan perut Bibi Chen berasal dari bagian bawah rahim, tumor ini disebut Teratoma. “Tumor ini memiliki struktur yang padat ini melekat di antara rahim. Untungnya tidak ada perlekatan pada rongga perut dan usus. Tetapi karena volume tumor sangat besar, maka tingkat pembedahan menjadi sangat sulit.”

 

 

Pada pukul 9 pagi, operasi dimulai. Prof Wang dan timnya dengan hati- hati mulai melakukan perasi untuk Bibi Chen. Dimulai dengan sayatan sepanjang 15 cm di tengah- tengah perutnya, lalu mulai membuka selapis demi selapis rongga rongga perut mulai dari memotong kulit, subkutan, rektus abdominis, hingga ke lapisan peritoneum untuk menjelajahi seluruh rongga perut Bibi Chen. Tumor besar akhirnya dapat terlihat secara utuh, terbungkus seperti kapsul, dan sayatan diperlebar untuk mengambil tumor besar tersebut. Ukuran tumor tersebut mencakup 20 x 20 x 20 cm. Bentuknya bulat, dan ujungnya menyentuh dinding bawah rahim. Lalu tim bedah menjepit akar tumor yang menempel pada rahim dengan hemostatik forsep. Tumr dan bagian uerus diangkat sepenuhnya, lalu dikeluarkan dari dalam rongga panggul. Operasi yang rumit ini menjadi lebih sederhana, rahimpun diangkat sepenuhnya hingga bersih. Darah yang keluar saat operasi hanya 30 ml, staf medis yang ikut disana juga merasa kagum. Tumor besar yang diangkat beratnya mencapai lebih dari 15 kilogram. Tidak ada pendarahan yang ditemukan dalam rongga perut. Hanya selang drainase yang terpasang sementara dokter menjahit lapis demi lapisan rongga perut kembali.

 

 

 

 

Setelah operasi, Prof Wang mengatakan “ Operasi ini dapat diselesaikan dengan sukses berkat persiapan yang matang oleh tim ahli bedah sebelum operasi berlangsung. Kami mempertimbangkan bahwa terdapat resiko jantung sebelum operasi. Jadi secara khusus kami mengundang Prof Niu dan para ahli jantung untuk menghadiri operasi tersebut, untuk membantu disaat darurat. Mereka telah memainkan peran utama yang penting dalam memasitikan bahwa operasi dapat berjalan dengan mulus. “

 

Setelah operasi Bibi Chen merasa bahwa sebelumnya ia tidak memiliki kehidupan yang nyaman. Putranya berkata dengan gembira “Ibuku sangat beruntung karena datang ke rumah sakit ini tepat waktu. Kami sepenuhnya percaya dan menyerahkannya pada tim dokter terutama Prof Wang, Kami sekeluarga sangat berterima kasih kepada tim medis atas perhatian mereka. “

 

Setelah operasi, Bibi Chen pulih dengan baik dan mampu berdiri kembali.