Pengendalian Neurofibroma di Kepala dan Leher Seorang Mahasiswa Berusia 19 Tahun

Blog - December 05,2018 00:00 WIB

Post

Pada tanggal 14 November, sepasang paruh baya dengan seorang anak laki yang baru SMA tiba-tiba muncul di depan Profesor Niu Lizhi, wakil dekan FUDA Cancer Hospital. Wanita paruh baya itu berkata : " Tolong bantu anak saya, anak saya hanya dia seorang saja... " Setelah berbicara, ibu itu menangis. Ternyata putranya, bocah lelaki berusia 19 tahun itu menderita Neurofibromatosis. Selama dua tahun ini ia terus berpindah- pindah rumah sakit dari Beijing, Shanghai dan Guangzhou. 

 

Namun setelah menyelesaikan operasi kedua di Beijing tahun ini, ahli bedah mengatakan kepada mereka bahwa setelah operasi ini tidak ada lagi operasi yang bisa dilakukan selanjutnya. Pemeriksaan tiga bulan pasca operasi menunjukkan bahwa tumor masih ada di leher, membuat tingkat kesulitan operasi menjadi sangat tinggi. Karena akan mempengaruhi pernapasan, jadi rumah sakit besarpun menolak untuk menerima anaknya.

 

Setelah Operasi, Tingkat Kemungkinan Kambuh Menjadi 30%

 

Ketika Li bangun di pagi hari pada tahun 2015, dia menemukan bahwa rasa sakit di bahunya secara konstan, dan iapun melaporkan hal itu kepada kedua orang tuanya. Lalu orang tuany berkata mungkin karena ia terlalu banyak bermain komputer sehingga pundaknya terasa sakit. Li pun berpikir itu sangat masuk akal sehingga ia sadar bahwa ia harus mengurangi waktu bermain komputer. Namun rasa sakit itupun tidak hilang hingga hampir satu tahun. Pada april 2016 ia merasakan sakit di bahunya yang tidak tertahankan. Dan orang tuanyapun akhirnya menyadari penyakitnya secara serius dan segera membawanya ke rumah sakit besar. Keluargapun bergegas untuk pergi ke tiga besar rumah sakit dalam semalam dan pemeriksaan MRI menunjukkan bahwa foramen intervertebralis C4-5 di leher memiliki tumor schwanomas. Pada 21 April 2016 reseksi tumor sumsum tulang belakang servialspun dilakukan. Setelah operasi, dokter mengatakan kepada mereka bahwa tingkat kekambuhan tumor tersebut menjadi 30%.

 

Setelah operasi, Li pun kembali ke rumah untuk pemulihan. Lalu secara tidak sengaja ia menemukan bahwa massa di leher kirinya membesar dari hari ke hari. Dia kembali ke rumah sakit lagi pada 2017, karena takut tumornya kembali dan berkembang. Pada 21 April 2017 ia kembali menjalani reseksi dan hasilnya terdapat fibromatosis mirip ligamen. Pada tanggal 26 Juni tahun yang sama, ia melakukan radiasi di vertebra C2- T1 serta foramen intravertebral kiri, dan dokterpun juga merekomendasikan kemoterapi. Pada 21 Oktober 2018, Li merasa bahwa lehernya benar- benar tidak nyaman, setelah pemeriksaan MRI vertebra serviks menunjukkan: terdapat masa di sisi kiri C3-C5 dan dokter merekomendasikan kemoterapi kembali, tetapi ukuran tumorpun tetap tidak berkurang. setelah hasil itu keluar orang tua Li tidak kuasa menahan tangisnya. Cerita malang Li inipun telah menarik perhatian semua orang. Hingga seorang dokter setempat yang pernah mendengar ceramah Prof Niu Lizhi memberitahukan bagaimana mereka mengobati kanker dan meminta mereka untuk pergi ke RS Kanker FUDA untuk berkonsultasi dengan prof Niu.

 

Dokter Niu Lizhi

 

Di FUDA Kami Bersama-Sama Mengamankan Tumor

 

Jadi keluargapun bergegas untuk pergi ke Rumah Sakit Kanker FUDA untuk menemui Prof Niu. Setelah berkonsultasi dengan prof Niu, ia menugaskan mereka untuk pergi ke departemen onkologi kepala dan leher. Para ahli di departemen tersebut Prof Zeng Zongyuan dan timnya pun merundingkan hal ini dengan hati- hati untuk menentukan rencana perawatan yang tepat. Karena Li telah melakukan dua operasi, lokasi lesi khusus itu terletak di belakang daerah leher dapat mengakibatkan saluran udara menyempit, dan menyebabkan kesulitan untuk bernapas. Sehingga menjadikan resiko operasi sangat besar. Li yang menuju ruang operasi, sedang menunggu untuk dianestesi. Li yang pada saat itu berkata dengan gugup bahwa pasca sarjana ia akan pergi ke Universitas Sun Yatsen untuk menjadi dokter, dan Prof Niu pun mendorongnya dengan berkata “Tidak masalah, kita akan maju ke meja operasi bersama- sama dengan aman!”

 

Gambar Hasil Pencitraan Pada Bagian Kepala dan Leher Penderita Neurofibromatosis

 

Setelah operasi, Prof Niu menjawab bahwa kesulitan operasi terletak pada tumor yang berada jauh di dalam kepala dan leher, tumor yang dekat dengan saluran pernapasan. Jika sedikit saja melakukan ketidak sengajaan maka akan menyebabkan kesulitan pernapasan, dan dalam beberapa menit akan mengakibatkan kematian. Oleh karena itu, mereka melakukan anestesi lokal untuk memperkuat anestesi sehingga dapat memastikan apakah Li bernafas dengan normal selama prosedur Cryoablasi. Di bawah panduan CT, Jarum probe bekupun dimasukan ke daerah target tumor paravertebral servikal kiri. setelah CT scan di tempat 100% tepat, volume udara pun dibekukan selama 2 siklus. Setelah dipanaskan pisau ultra-dinginpun ditarik keluar, dan titik tusukan dibungkus kembali, darah yang hilang hanya 0.5ml. Tumor yang dibekukan mencapai 80%. ketakutan keluarga akan tingkat kesulitan operasi yang tinggi pun hilang karena Li bisa makan dengan normal setelah operasi. Li dan orang tuanya merasa sangat puas dengan perawatan ini.

 

Prosedur Cryoablasi Pada Leher Pasien Seorang Siswa SMA Penderita Neurofibromatosis

 

Gambar Hasil Pencitraan Pada Bagian Kepala dan Leher Penderita Neurofibromatosis

 

Cryoablasi yang Canggih, Membuka Mata Semua Orang

 

Setelah melakukan Cryoablasi, keluarga Li sangat kagum belihat hal itu, mereka tidak habis pikir ternyata ada metode lain selain operasi. Mereka sangat terkejut dan kagum, terutama karena setelah beberapa hari operasi, Li sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit (untuk menghemat biaya pengobatan). Lebih heran lagi Li tidak tampak seperti orang yang sakit parah. Orang tuanya pun memuji dan berkata “Tidak di sangka di RS Kanker FUDA sangat keren, awalnya hanya mendengar dari teman saja, tapi ternyata benar- benar bisa mengobati anak saya. Bagus sekali.” Mata ibu Lipun tak sanggup lagi membendung air mata, iapun memeluk dokter dan para perawat di rumah sakit untuk berterima kasih.

 

Proses Cryoablasi Siswa SMA Penderita Neurofibromatosis

 

Tahun 2001, FUDA Cancer Hospital pertama kali memperkenalkan teknologi Cryoablasi, sebuah metode baru yang efektif dan penting untuk mengobati beberapa pasien dengan kanker stadium dini dan lanjut. Metode ini dapat digunakan untuk pengobatan tumor padat di berbagai bagian tubuh seperti paru-paru, liver, ginjal, limpa secara bertahap dan melebar. Dan metode minimal invasif ini lebih ampuh dibanding reseksi pembedahan konvensional, untuk tumor yang tidak dapat dihilangkan karena infiltrasi jaringan di sekitarnya, namun Cryoablasi masih tetap bisa dilakukan. Dengan mengembangkan teknik minimal invasif dan kemajuan peralatan ablasi kemanjuran ablasipun bertambah, terutama dalam menangani tumor ganas, ablasi ini lebih unggul daripada operasi konvensional dan radioterapi. Teknologi ini telah menjadi pengobatan yang penting untuk menyembuhkan tumor, karena dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dengan tumor yang sudah stadium lanjut.

 

Dokter Zeng Zongyuan

 

Zeng Zongyuan, kepala ahli kanker bedah kepala dan leher di Rumah Sakit Kanker FUDA. Ia merupakan lulusan dari Dept Medis Universitas Kedokteran Zhongshan. Dia pernah menjadi wakil direktur RS Tumor Sun Yatsen dan wakil Direktur Pusat Pencegahan Kanker. Ia terlibat dalam penelitian onkologi selama lebih dari 40 tahun dan memiliki pengetahuan yang mendalam dalam diagnosis dan pengobatan tumor kepala dan leher. Ia dikenal sebagai ahli "Zero Bleeding", "ligasi blokade terputus" yang asli dan "metode jahitan interlock t -type", efektif menghindari atau mengurangi perdarahan intraoperatif, pada tumor tiroid, tumor kelenjar parotid dan pembuluh darah pada wajah dan leher. Prestasi yang cemerlang telah ia dapatkan selama operasi tumor.

 

Ia juga menulis buku berjudul "Praktis Onkologi Kepala dan Leher", "Onkologi Klinis", dan "Bedah Tenggorokan Modern". Bukunya menerima hadiah pertama sebagai Buku Teks yang sangat bagus dari University Press of Central South China. Pada 1999, ia memenangkan hadiah kedua dari Guangdong Medical and Health Science and Technology Progress Award dan sejumlah penghargaan pencapaian penelitian ilmiah di tingkat sekolah. Ia juga mendapatkan "tunjangan khusus pemerintah" Dewan Negara. Pada tahun 2010, ia memenangkan penghargaan kehormatan tertinggi dari Sun Yat-sen University - "Sun Yat-Sen University Service Excellence Award".