Penyanyi asal Malaysia yang tidak pernah menyerah melawan kanker “Berkunjung kembali

Blog - December 03,2018 00:00 WIB

Post

 

 

 

Saya telah melupakan kemalangan yang saya derita, dan tidak ada rasa sakit dalam diri saya. Jika terus menatap ke atas, anda akan melihat langit biru.

 

——Lin Yingzhi

 

 

Pada tahun 2016, Lin Yingzhi, seorang musisi Malaysia yang menderita adenokarsinoma paru lanjut, pergi ke Guangzhou untuk mencari perawatan medis.Di bawah perawatan penuh tim medis Rumah Sakit Kanker Fuda Guangzhou yang dipimpin oleh Profesor Xu Kecheng, kondisiny menunjukkan perubahan haluan yang besar dan akhirnya ia bisa keluar dari rumah sakit.

 

 

 

Profesor Xu Kecheng selalu ingat gadis yang bisa bernyanyi dan menari ini, Ia bersikap baik dan cerdas. Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana kondisiny sekarang?

 

 

 

Ternyata Lin Yingzhi, yang kembali ke Malaysia, tidak berhenti dengan kesibukannya. Dengan hati yang bersyukur, ia melanjutkan karir musik favoritnya dan menyampaikan kehidupan yang luar biasa dengan suara nyanyiannya.

 

 

 

Pada 23 November, Lin Yingzhi kembali ke Guangzhou. Selain menjalani perawatan, dia juga datang untuk melihat teman lamanya, terutama Profesor Xu Kecheng yang menjadikannya "Lahir kembali".

 

 

Bersyukur terhadap penyakit

 

 

Lin Yingzhi (41) adalah generasi keempat dari Tionghoa Malaysia, ia dan saudara perempuannya Lin Yingqian telah tertarik pada musik dan tari sejak kecil, dua bersaudara membentuk paduan suara dandelion. Pada pertengahan 2016, penyakit ini tiba-tiba datang, dan Lin Yingxi didiagnosis menderita kanker paru-paru stadium lanjut. Pada saat itu, ia mengalami kesulitan bernapas setiapkali melangkah. Dia diberitahu oleh rumah sakit setempat penyakitnya ini tidak ada obatnya. Lalu seorang eksekutif media Malaysia memperkenalkan dia ke Rumah Sakit Kanker Fuda di Guangzhou untuk perawatan medis. Ditemani oleh saudara perempuannya, dia berharap untuk terbang ke Guangzhou pada bulan Agustus 2016 dan tinggal di Rumah Sakit Kanker Fuda untuk perawatan.

 

Sebelum datang ke Tiongkok, hasil tes genetik Lin Yingzhi di rumah sakit setempat menunjukkan bahwa kanker gen negatif, jadi terapi yang ditargetkan tidak dapat dilakukan dan satu- satunya harapan hanya kemoterapi. Karena itu Profesor Xu Kecheng mengusulkan untuk pengujian genetik ulang, dan keluargapun menolak karena "tidak ingin mengeluarkan biaya lagi untuk sebuah kekecewaan."

 

Namun profesor Xu Kecheng percaya bahwa Lin Yingwei, seorang wanita muda yang tidak memiliki riwayat merokok, kemungkinan memiliki mutasi genetik, sehingga dia terus bersikeras untuk melakukan tes genetik dengan uangnya sendiri sebesar 5000 yuan.

 

 

Tes yang tampaknya tidak perlu ini telah menjadikan rencana pengobatan berubah total. Laporan tes menunjukkan bahwa ALK onkogen Lin Yingzhi negatif (umumnya hanya 3% -5%), sementara membawa translokasi ROSI positif, yang hanya ada 1% pasien adenokarsinoma paru! Ini berarti dia bisa diobati dengan obat yang ditargetkan.

 

Selama dirawat di rumah sakit, Lin Yingzhi masih terus meniti karir musikny bernyanyi, ia terus bernyanyi bersama saudara perempuannya di halaman setiap hari. Cuaca yang dingin di rumah sakit berubah hangat oleh suara piano yang menyegarkan sehingga kondisinyapun jauh membaik. Lin Yingzhi yang mendapat intubasi di leher terus menyanyikan beberapa lagu dengan adik perempuannya, tempat piano yang sepipun menjadi ramai. Banyak pasien serta anggota keluarga yang berkumpul mendapatkan energi positif dari nyanyian dan alunan piano dua bersaudara ini yang menyentuh semua orang.

 

 

 

Lin Yingzhi yang berhasil melawan kanker kembali ke Guangzhou pada akhir Agustus 2017 untuk pemeriksaan rutin. Selama tinggal di rumah sakit, dua saudara perempuan ini berbagi inspirasi mengenai “Never Give Up” pada acara konser ucapan terima kasih di RS Kanker Fuda. Pada saat itu Su Caifang wakil direktur kantor Urusan Luar Negeri Guangdong yang secara pribadi menghadiri acara tersebutpun ikut melaporkannya.

 

Bertemu lagi dan bekerja sama untuk menciptakan keajaiban Baru.

 

Pada 23 November tahun ini, Lin Yinzhi datang ke Rumah Sakit Kanker Fuda Guangzhou untuk menjalani pemeriksaan serta rawat inap. Pada 26 November di pagi hari, ia pun berkata ingin pergi bertemu teman lama Prof Xu Kecheng di studio kesehatannya. Jadi siang harinya Lin Yingzhi ditemani oleh saudara perempuan dan ibunya pun pergi berkunjung ke sana.

 

Akhirnya Prof Xukechengpun bertemu dengan Lin Yingzhi, ia juga merasa sangat bahagia karena Lin Yingzhi terlihat sangat senang dan bergairah. Setelah makan siang, ia secara khusus mengajarkan teknologi baru bagaimana hidrogen mengendalikan kanker. Lin Yingzhipun mendengarkan dengan penuh semangat, ia mengambil telepon dari waktu ke waktu untuk mengambil gambar slide presentasi tersebut.  Dapatkah hidrogen mengendalikan kanker? Ia menggambarkan pelajaran itu seperti “Membuka Pintu Baru” dan membiarkannya bersinar

 

Lin Yingzhi pun bercerita bahwa selama dua tahun setelah kembali dari Tiongkok, iapun sangat sibuk dengan kariernya sebagai penyanyi. Baru- baru ini ia dan saudara perempuannya sedang mempersiapkan sebuah buku bersuara dengan tema “Pembalikan Takdir, Dedikasi dan Penuh Syukur”

 

Pada bulan Maret tahun ini, penyakitnya masuk ke tahap berikutnya. Sel kankernya bermetastasis ke otak. Dan operasi otak dengan pisau gamma pun di lakukan di Malaysia. Supaya tidak memberikan tekanan ke otak, ia tidak diperbolehkan untuk menaiki pesawat. Sehingga bisnis pertunjukan seninya juga terpengaruh, sehingga beberapa pertunjukan skala besar harus dibatalkan, salah satunya ialah penampilannya di Filipina. Beberapa bulan setelah operasi, iapun pulih kembali dan sudah diperbolehkan untuk naik pesawat. Dan ia memilih untuk terbang ke Guangzhou untuk pertama kalinya setelah perawatan.

 

Lin Yingzhi mengatakan bahwa beberapa bulan yang lalu ia harus mengganti obat target yang lama dengan yang baru karena obat yang lama sudah resisten. Tetapi efek samping dari obat baru ini lebih jelas sehingga tubuhnya terus kesakitan hingga mati rasa. Yang paling parah ketika ia tidak bisa merasakan sentuhan di tangan, dan terasa seperti terbakar beberapa kali. Untungnya setelah akupuntur dan moxibusion serta perawatan adjuvan lainnya, gejala- gejala tersebut berkurang.

 

 

Profesor Xu Kecheng mengatakan bahwa hidrogen cepat berdifusi dan dapat menembus penghalang darah-otak untuk menghasilkan efek, yang dapat mengurangi metastasis otaknya. Ia menyarankan agar Lin dapat menggunakan hidrogen sebagai sarana rehabilitasi di rumah.

 

"Ya? Itu hebat!" jawab Lin senang. Dengan bantuan sukarelawan studio, ia dan saudara perempuan dan ibunya menggunakan alat penyemprot hidrogen untuk pertama kalinya selama dua jam. Dia mengakui bahwa dia akan selalu optimis untuk menghadapi kehidupan, secara aktif menggunakan, dan menyerap hidrogen, cara baru yang mau ia coba, dan berharap untuk menciptakan keajaiban hidup.