Vonis Kanker, Bagaikan dijatuhkan ke Neraka dari Surga

Blog - November 21,2018 00:00 WIB

Post

 

 

Ia berasal dari negara yang disebut “Surga Dunia yang sulit ditinggali” - Papua New Guinea. Penduduk yang tinggal disini dikatakan sebagai penduduk yang paling bahagia. Namun karena kanker mulutnya ia merasa depresi setiap harinya. Baru- baru ini, ia berbincang dengan dekan kehormatan RS Kanker Fuda, Prof Xu Kecheng. Prof Xu yang melihat nama pasien ini LUTHER GEORGE KARALIYO (Luther) pun pertama bertanya tentang kondisinya. Dan Luther pun menjawab “Saya paling bahagia saat ini” Prof Xu yang perhatian memberi dukungan dengan berkata “Di sini anda harus percaya diri untuk sembuh. Jika memiliki keinginan silahkan diutarakan. Jika kami bisa lakukan, akan kami usahakan sebaik- baiknya untuk mengabulkannya.” setelah berhubungan baik, Prof Xu dengan lembut membuka masker Luther dan melihat kondisi mulutnya. Lalu ia menepuk bahu kanan Luther dengan tangannya dan berkata “Kamu harus percaya diri” dan ia serta keluarga yang mendengar kata- kata hangat inipun tersenyum.

 

 

Divonis Kanker Mulut bagaikan jatuh ke neraka dari surga

 

Tahun 2016, Luther yang periang hidup bahagia bersama keluarganya di Papua New Guinea. Untuk pertama kalinya ia mengalami penderitaan di hidupnya pada Mei 2016. Tahun ini tiba- tiba saja tanpa penyebab yang jelas pipi kanannya terasa nyeri. Lalu ia segera pergi ke rumah sakit lokal untuk pemeriksaan, dan dokter mendiagnosis kanker mulut. Vonis Luther ini membuatnya bagaikan jatuh dari surga ke neraka. Ia mulai mencoba berbagai macam pengobatan. April tahun ini, kulit pipi dan bibir Luther berubah kemerahan dan membengkak, infeksi, sejumlah kecil cairan, dan kesulitan untuk membuka mulut. Hal ini membuat nafsu makannyapun ikut terbatas. Bulan Mei, Luther mengikuti saran dokter untuk mengkonsumsi oral Methotrexate 40mg seminggu sekali dan juga prednisone 20mg sehari sekali untuk anti tumor. Setelah perawatan rutin, kulit di bibir dan pipi kananpun masih merah dan bengkak. Kondisinya tidak membaik, sehingga Lutherpun memutuskan untuk berheti mengkonsumsi kedua obat itu pada bulan Agustus.

 

 

 

Luther yang dirawat di rumah sakit lokal dalam beberapa bulan tidak kunjung membaik.. Dia dan keluarganyapun benar- benar paham bahwa tidak ada peralatan medis canggih di rumah sakit setempat, dan tidak ada rumah sakit khusus kanker. Dengan kondisi rumah sakit yang tidak memadai, maka tidak mungkin ada harapan disitu. Maka suami Luther belajar dari teman- temannya bahwa di China terdapat bantuan medis untuk Papua Nugini. Dan ia tahu bahwa tingkat medis di China relatif tinggi. Terlebih lagi ketika ia mendengar temannya memperkenalkan bahwa RS Kanker Fuda memiliki teknologi terdepan dalam menangani tumor. Diantaranya ada Nano Knife, Cryotherapy pisau argon- helium, immunoterapi gabungan, PDT, terapi iodine partikel, dll dengan segudang pengalamannya dalam pengobatan tersebut. Lagipula ia mendengar seorang temannya yang telah menerima lokal kemoerapi di RS Kanker Fuda dan hasilnyapun cukup baik, sehingga ia bersiap- siap untuk siklus kedua. Dahulu kala, lokal kemoterapi merupakan terapi spesial di RS Kanker Fuda, Fuda telah merawat puluhan ribu pasien kanker dengan kemoterapi lokal. Tidak sedikit pasien yang memiliki prognosis yang baik. Setelah Luther memahami hal ini, ia dan keluarganya yakin untuk berobat ke Fuda.

 

 

Jadi apa itu terapi invasif mikrovaskuler / lokal kemoterapi terhadap tumor? Terapi ini menggabungkan berabgai macam obat kemoterapi ke dalam butiran kecil. Kemudian obat tersebut dimasukan melalui pembuluh darah arteri secara intervensional untuk langsung memakan tumornya.  Partikel- partikel kecil dari obat kemoterapi ini akan secara selektif menembus langsung kedalam jaringan tumor dan mempertahankan konsentrasi tingginya untuk waktu yang cukup lama. Prinsipnya adalah: sel- sel tumor memliki celah diantar kapiler sel endotel, sedangkan sel normal memiliki dinding kapiler yang rapat. Dengan demikian partikel- partikel kecil dari obat kemoterapi yang disuntikan secara langsung, selektif dapat menembus ke dalam jaringan tumor untuk waktu yang lama. Obat kemoterapi sulit untuk memasuki kapiler sel normal, karena terlalu kecil, sehingga tidak menyebabkan emboli kapiler, dan mengalir dalam darah dalam jumlah yang sangat kecil. Sehingga tidak akan menyebabkan kerusakan berlebihan pada jaringan normal dan efek samping sistemiknyapun menjadi sangat kecil.

 

 

 

 

Langsung mendapatkan hasil setelah pengobatan intervensi awal.

 

Untuk perawatan Luther lebih lanjut, pada 22 September ia didiagnosis dengan “Kanker Mulut” di RS Kanker Fuda. Pada hari ketiga perawatannya, tim ahli telah mengembangkan perencanaan lokal kemoterapi. Dokter Xing Yanli yang hadir megatakan bahwa Luther sudah berada di tengah- tengah perawatan akhir dari tumor pada saat di rawat di rumah sakit. sehingga perawatan menjadi lebih rumit. Setelah dua kali intervensi, secara signifikan kondisinya jauh lebih membaik dibanding pada saat ia baru pertama kali dirawat. Dan ia segera diberikan antibiotik, analgesik dan antipasmodik dengan Natrium Cefoperazone dan sulbaktam. Sambil menunggu pengobatan sistematik, Dokter Zhou Qiang yang bertanggung jawab dalam pengobatan intervensi ini, memperkenalkan: masukan 70 cm kateter panjang kedalam femoralis arteri agar menembus tumor dari titik tusukan hingga rongga mulut. Keuntungannya adalah supaya obat kemoterapi dapat dikontol sehingga lebih akurat. Jumlah dan konsentrasi obat yang lebih tinggi pada sasaran, sehingga mengurangi efek samping.

 

 

Pada 11 Oktober, Luther telah menyelesaikan siklus pertama terapi intervensi. Tidak ada kelainan dalam pemeriksaan darah rutin dan elektrolit. Pada 17 Oktober, siklus kedua kemoterapi intervensi dilakukan. Intervensi kedua menghasilkan efek yang lebih baik, hingga Luther merasakan semangat hidupnya kembali lagi, oleh karena keterampilan medis para dokter yang luar biasa dan rasa tanggung jawab terhadap pasien di Fuda memberikan kesan mendalam padanya dan keluarganya.

 

“Rumah sakit lokal di tempat kami tidak dapat mengendalikan tumor saya. Susasana saat itu sangat buruk. Saya merasa sangat tertekan dan tidak ingin berbicara dengan keluargaku “ Luther mengenang “Sekarang bila saya pikir kembali gagasan untuk berobat ke sini sangat tepat. Untungnya saya datang ke sini tepat waktu. Saya merasa paling bahagia sekarang ini saat berada di sini!” putri Luther pun bahagia melihat seyum ibunya yang sudah lama hilang dan dengan gembira berkata “Kami suka rumah sakit ini.”

 

 

Untuk lebih maju dan memperdalam teknik RS Kanker Fuda bekerja sama dengan tim medis internasional, dan menerapkan kebijakan "One Belt, One Road" untuk memberikan performa maksimal bagi kebaikan sumber daya rumah sakit onkologi yang berkualitas tinggi, sehingga pasien kanker dari seluruh dunia dapat merasakan perawatan di Rumah Sakit Fuda . Saat ini Rumah Sakit Fuda sudah menjadi rumah tangga bagi keluarga internasional, di lorong dapat terdengar suara pasien dari seluruh dunia Ditemani oleh tokoh medis Rumah Sakit Fuda yang sibuk, tidak peduli seberapa dingin atau panasnya cuaca, mereka tidak pernah berhenti bekerja dan melayani dengan sepenuh hati.