+62851-0461-2299

Pria tampan Korea menghindari amputasi dengan cryoablasi

Blog - January 16,2020 00:00 WIB

Post

 

Insiden sarkoma yaitu tumor ganas pada jaringan lunak meningkat, terutama di kalangan anak muda.

Baru-baru ini, Rumah Sakit Kanker Fuda merawat seorang pemuda tampan asal Korea Selatan, Park Jun (nama samaran), yang memiliki beberapa sarkoma di tubuhnya. Saya telah menjalani operasi reseksi sarkoma di Korea Selatan. Setelah beberapa waktu, saya merasa tidak enak badan dan menemukan tumornya tumbuh kembali. Tidak perlu waktu lama setelah reseksi kedua, tumorpun kambuh lagi dan bermetastasis. Setelah menerima berbagai perawatan di banyak rumah sakit Korea, efeknya tetap tidak ideal. Setelah banyak berkonsultasi, saya mengetahui bahwa Rumah Sakit Kanker Fuda, terkenal dengan teknik ablasi minimal invasifnya, Park Junpun akhirnya memutuskan untuk datang ke Guangzhou mencari secercah harapan dalam keputu-asaan.

 

Menurut Profesor Niu Lizhi, wakil direktur RS Kanker Fuda, karakteristik sarkoma adalah pertumbuhan lokal yang cepat, karena sarkoma tidak sensitif terhadap kemoradioterapi, maka tumor seseorang akan muncul setelah memotong bagian dari tumornya. Seringkali pasien akan terjebak dalam siklus operasi, rekurensi, lalu operasi ulang, dan rekurensi. Namun, kenyataan yang tak terhindarkan adalah bahwa banyak pasien tidak dapat lagi mentolerir operasi setelah beberapa kali menjalani operasi.

 

 

Menghadapi situasi ini, apa yang harus dilakukan pasien dengan sarkoma?

 

 

 

 

Pada saat ini, pasien memerlukan "Plan B", yaitu rencana perawatan alternatif. Untungnya, selain operasi, skema penyelamatan lain saat ini berfokus pada ablasi minimal invasif, termasuk cryoablasi pembekuan dan ablasi termal, di mana ablasi dingin lebih efektif pada tumor jaringan lunak. Dalam pedoman NCCN AS, cryoablasi juga digunakan sebagai pengobatan yang direkomendasikan untuk kasus sarkoma.

 

 

Park Jun, yang terkena sarkoma, berulang kali melakukan beberapa reseksi. Ketika tumor kambuh dengan metastasis, rumah sakit Korea juga menyatakan bahwa tidak ada rencana perawatan yang lebih baik, dan dia mulai mencari informasi mengenai metode pengobatan baru. Arahnyapun mulai bergeser ke negara lain, setelah mengajukan pertanyaan ke banyak pihak, akhirnya ia memutuskan untuk datang ke RS Kanker Fuda.

 

 

 

 

Setelah datang ke Fuda, dokter terus memeriksanya secara komprehensif. Karena keterlambatan sebelumnya dalam perawatan, sarkoma pergelangan tangan kanannya mulai mengeluarkan nanah. Menurut metode pengobatan tradisional, amputasi baik untuk dilakukan. Tetapi hal ini memiliki dampak besar pada kehidupan seorang mahasiswa yang baru berusia 23 tahun ini yaitu cacat fisik dan pandangan aneh dari orang lain yang juga akan menyebabkan luka di hatinya, dan tidak diragukan lagi akan mempengaruhi kehidupan psikis anak muda tersebut.

 

Park Jun, menggelengkan kepalanya berulang kali, menolak untuk diamputasi. Setelah beberapa diskusi oleh tim ahli Fuda, mereka mengusulkan rencana perawatan cryoablasi untuknya. Karena salah satu keuntungan dari cryoablasi ialah dengan cepat menyebabkan nekrosis tumor, dan menghentikan pendarahan serta, bau busuk dan borok dari permukaan sarkoma tersebut.

 

 

Pisau cryo yang mempesona berhasil menyelamatkan lengan.

 

 

 

 

Setelah membuat persiapan pra operasi yang cukup matang, operasi akhirnya dimulai, dokter kepala Profesor Niu Lizhi dari RS Fuda, dengan tenang memegang beberapa jarum cryo, dan memusatkan matanya pada tempat bedah. Di bawah anestesi lokal, bola es membeku hingga benar-benar membungkus tumor. Saat Ia berdiri, sarkoma dengan cepat nekrotik (mati) dan perlahan menyusut seperti bekas luka

 

Setelah dua jam, operasinya berjalan sangat lancar, sarkoma dengan darah yang menyiksa pria Korea itu akhirnya benar-benar tidak aktif, ia tidak hanya terhindar dari dampak traumatis amputasi, tetapi juga rasa sakit yang sangat besarpun akibat sarkoma tersebut ikut berkurang. Setelah menjalani cryoablasi dan beberapa hari menjalani observasi di rumah sakit, akhirnya Park Jun diperbolehkan kembali ke Korea.

 

Profesor Niu Lizhi mengatakan saat pasien juga menemukan keberadaan sarkoma di bagian lain, dan setelah perawatan sarkoma tersebut berhasil dikendalikan. Di sini ditekankan bahwa sarkoma cenderung kambuh dan menyebar, sehingga Park Jun saat ini masih harus meminum obat untuk membunuh sisa- sisa dari sel sarkoma tersebut. RS Kanker Fuda akan terus menindaklanjuti situasi pasien dan mempersiapkan diri untuk perawatan Park Jun selanjutnya.

 

 

 

 


Apa itu Cryoterapi?

Prinsip dasar operasi cryoablasi adalah: pendinginan cepat jaringan kanker hingga di bawah -160 ° C, dan kemudian penghangatan, sehingga langsung menyebabkan sel-sel kanker mengalami dehidrasi dan pecah, serta menghancurkan pembuluh darah kecil dari tumor dan menyebabkan hipoksia (kekurangan oksigen), yang menyebabkan kematian sel tumor; setelah ablasi dingin Jaringan tumor mati yang tersisa dapat digunakan sebagai antigen untuk meningkatkan respon imun anti-tumor dalam tubuh, sel-sel kanker yang telah membeku lebih sensitif terhadap kemoterapi atau radioterapi, sehingga dapat meningkatkan efek kemoterapi atau radioterapi.

 

 

Dibandingkan dengan perawatan bedah tradisional serperti radioterapi dan kemoterapi, teknologi cryoterapi memiliki banyak keuntungan. Sebagai contoh, untuk pasien usia lanjut dan pasien dengan fungsi fisik yang buruk, cryoterapi tidak memerlukan operasi, dan trauma yang sangat minim sehingga ideal untuk pemulihan dan penyembuhan diri pasien lebih awal, misalnya, kanker hati dini dapat sepenuhnya disembuhkan dengan cryoterapi untuk mencapai efek yang lebih baik dari operasi bedah.

 

Rumah Sakit Kanker Fuda memperkenalkan teknologi dari Amerika Serikat ini sejak tahun 2000. Saat ini, RS Kanker Fuda berada di antara kelas dunia dalam bidang teknologi Cryoterapi. RS Kanker Fuda telah menyelesaikan lebih dari 10.000 kasus kanker dengan Cryoterapi, lebih dari 20 jenis kanker, dan menempati urutan pertama dalam jumlah kasus terbanyak di dunia.