+62851-0461-2299

Ablasi Nano Knife, Pisa Kehidupan Raja Kopi

Blog - January 10,2020 00:00 WIB

Post

 

Kata Pengantar:

Dalam beberapa tahun terakhir, akibat berbagai perubahan serta pola makan di dunia, statistik menunjukkan bahwa terjadinya kanker usus besar terus meningkat secara signifikan. Seiring juga dengan perkembangan bedah, laparoskopi, bedah minimal invasif telah diakui oleh para ahli gastroenterologi sebagai perawatan yang layak dan aman dalam menangani kanker kolorektal. Tetapi dalam kasus kanker transversal bawah, diseksi kelenjar getah bening menjadi lebih rumit dan membutuhkan teknik yang terbaru karena melibatkan pankreas, lambung, limpa, ginjal dan organ- organ lainnya, sehingga tidak banyak laporan yang menuliskan mengenai operasi tersebut.

 

 

Leo sebuah nama samaran dari seorang pasien asal Indonesia, memiliki sebuah pabrik pengolahan biji kopi. Biji kopi yang diolahnya memiliki aroma khusus sehingga secara bertahap ia memperluas skala usahanya, hingga ia berhasil menjadi “Raja Produsen Kopi” di daerahnya. Hingga tahun 2017 silam, Leo yang bekerja keras tanpa henti bermaksud untuk pensiun di usianya yang ke 50 tahun. Ia memberikan usahanya kepada anak- anaknya, dan ia sangat senang karena dapat melihat anak- anaknya mengelola usaha mereka yang juga mereka sukai dan cintai sepanjang hidup mereka. Walaupun ia sudah pensiun, tetapi ketika orang- orang berbicara dengannya mengenai kopi, dengan senang hati Leo menjelaskan dan berbagi pengetahuannya mengenai biji kopi hingga teknologi pemanggangannya.

 

Pada sore hari di bulan September 2017, sang istri melihat Leo terus mendekap di kamar mandi, dengan cemas iapun akhirnya berteriak; “Pak saya tidak peduli hari ini kamu harus ikut saya untuk pergi ke rumah sakit menemui dokter” Merekapun bolak- balik selama 4 sampai 5 kali ke rumah sakit dalam sebulan. Dan akhirnya mereka melakukan CT scan dan gastroskopi.

 

 

 

 

Dokterpun terus menoleh ke arah sepasang suami istri tersebut lalu berkata “Tuan saya minta maaf tetapi saya harus memberi tahu anda tentang kondisi anda yang sebetulnya bahwa kemungkinan besar anda menderita kanker usus besar.” Leo dan istrinyapun langsung membeku sambil menggigit mulutnya dan memandang dokter: “Dokter, apakah anda yakin anda tidak salah? Mungkin saja saya hanya sembelit akibat infeksi pencernaan?” Dokter lalu menghela nafas dan berkata, “saya mengerti suasana hati anda saat ini, tetapi kami telah melakukan pemeriksaan berulang- ulang untuk memastikan dan hasilnya tetap sama bahwa anda menderita kanker usus besar dengan penyebaran di hati. Saya harap anda dapat memutuskan untuk melakukan operasi sesegera mungkin.”

 

Setibanya di rumah, leo membuat pernyataan yang serius kepada anak- anaknya tentang penyakit yang dialaminya. Anak - anaknya langsung memeluk ayah mereka dengan erat sambil membaca laporan hasil pemeriksaan ayah mereka, merekapun menyatakan kesediaan mereka untuk menemani ayahnya menjalani perawatan. Diagnosa kanker stadium 4, dan jadwal operasi sudah ditetapkan. Bersama keluarga Leo menjalani “Operasi paliatif kanker usus besar + colostomi” pada 7 September 2017, operasipun memakan waktu hingga 3 jam. Hasil patologi pasca operasi menunjukkan ‘Adenokarsinoma kolon transversal’ sehingga Leo harus menjalani kemoterapi sebanyak 8 siklus setelah operasi. Dan iapun menyelesaikan kemoterapi tersebut pada 10 April 2018, dan melakukan pemeriksaan secara teratur sesuai dengan anjuran dokter.

 

 

 

 

Pada Febuari 2019, pemeriksaan tumor marker CEA meningkat, dan pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa tumor hati membesar dibandingkan sebelumnya. Dokterpun merekomendasikannya untuk melakukan operasi lagi, namun keluarga Leo menolak untuk operasi. Karena ketakutan menjalani operasi, akhirnya tubuh Leo mulai menjadi kuning, bola mata putihnya berubah menjadi kuning seperti jatuh kedalam tangki pewarna, kuning sekali. Iapun segera memanggil istrinya bergegas menemui dokter setempat untuk perawatan. Akhirnya iapun melakukan MRCP dan hasilnya menunjukkan adanya penyumbatan pada saluran empedu. Iapun terus bolak- balik ke rumah sakit untuk melakukan perawatan tetapi tubuhnya semakin hari semakin lemah, tidak membaik.

 

Setelah lebih dari sebulan menjalani operasi, Leo mulai demam tinggi dan menggigil terus menerus selama seminggu hingga akhirnya ia kembali dirawat di rumah sakit setempat untuk perawatan simtomatik tanpa perbaikan yang signifikan. Melihat ayahnya yang hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur, putri Leo Lili memutuskan untuk tidak menyerah dan tidak mau membiarkan ayahnya terus tersiksa, akhirnya ia mencari pengobatan yang lebih cocok untuk ayahnya melalui berbagai saluran. Akhirnya putrinya mendengar tentang perawatan terbaru di Tiongkok melalui berita. Lalu iapun mendapatkan informasi mengenai perawatan minimal invasif dan segera menghubungi kontak yang bersangkutan. Ia mulai mengirimkan email mengenai kondisi ayahnya melalui website RS Fuda dan menceritakan mengenai kondisi ayahnya. Saat ia menerima balasan masuk mengenai perawatan untuk ayahnya, iapun segera berlari ke tempat tidur ayahnya dan bersorak, “Ayah kita masih punya kesempatan, jangan menyerah!”

 

 

 

 

Pada 12 November 2019, Lili membawa kedua orang tuanya ke kantor perwakilan RS Kanker Fuda di Jakarta. Setelah melihat serangkaian hasil pemeriksaan seperti:  CEA 1190ng / ml , Antigen rantai gula CA_125 81,86U / ml ↑, antigen rantai gula CA_19-9 18425U / ml ↑,  bahkan Profesor yang sangat berpengalaman seperti Prof Niu Lizhi sedikit mengernyitkan dahinya. Saya berpikir dalam hati: Kunci tumor ada di daerah hilar, menyebabkan banyak hambatan dalam saluran empedu, walaupun drainase bilier telah dilakukan, indeks bilirubin tidak akan turun hingga seratus. Indeks fungsi hati seperti itu tidak cocok untuk perawatan apapun. Apakah kita hanya bisa menunggu waktu saja? Tetapi melihat mata para pasien dan keluarga yang terus berharap membuat Prof Niu menghibur mereka dengan berkata: “Situasi Leo benar- benar sulit, tetapi kami akan melakukan yang terbaik, Percayalah.”

 

Prof Niu menghubungi seluruh tim ahli penyakit dalam untuk melakukan berbagai diskusi tentang kondisi Leo. Untuk melindungi sebanyak mungkin struktur jaringan di hati, solusi optimal ialah ablasi Nano-knife akhirnya dipilih di antara berbagai skema perawatan. Dalam kondisi fisik yang sesuai, pada 2 Desember 2019, dilakukan ablasi elektroporasi Nano- knife untuk tumor hati dengan anestesi umum menggunakan intubasi trakea. Lili, yang awalnya khawatir bahwa ayahnya tidak dapat melakukan operasi, mendengar ini dengan gembira memegang tangan Profesor Niu: " Terima kasih banyak telah memberi kami harapan baru. Kami percaya pada Anda. "

 

 

 

 

Setelah melakukan semua persiapan, Leo akhirnya masuk ke dalam ruang operasi dengan anestesi umum. "Selalu perhatikan tekanan darah dan volume darah, dan beri tahu saya kapan saja." kata Prof Niu kepada ahli bedah sambil menatap para perawat dengan serius. Ketika persiapan sudah dilakukan, Prof Niu mulai mengambil Pisau Nano-knife, secara akurat menusukkan jarum ke area tumor hati dibawah panduan CT scan. Dengan seksama memperhatikan layar, pisau nano sedikit demi sedikit ditusukkan, lalu menunggu sampai pisau nano sesuai dengan posisi tumor, sambil memantau memantau perubahan jaringan di sekitar hati yang dapat berubah kapan saja. Operasipun akhirnya berhasil dan tidak ada reaksi merugikan berlebih pasca operasi.

 

 

 

 

Seminggu pasca operasi, kulit Leo akhirnya membaik dan matanya tidak kuning kusam lagi seperti dulu. Selama pemeriksaan kembali setelah perawatan Prof Niu terkejut melihat tumor marker menurun drastis yaitu CA- 19 9 yang tertinggi yaitu dari 18.425 menjadi 1.321. Tumor yang terlihat kontras pada CT scan sekarang tidak aktif, hal tersebut merupakah sebuah keajaiban dan hasilnya melebihi harapan pasien serta dokter.

 

 

 

 

Prof Niu pun ikut senang berbagi kegembiraan dengan keluarga Leo. Leo akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada 29 Desember 2019. Keluargapun berterima kasih kepada Prof Niu. Namun Prof Niu berkata “Adalah tanggung jawab kami untuk meringankan rasa sakit pasien, sebuah kegembiraan untuk kami juga sebagai dokter melihat pasien hidup lebih baik di kemudian hari.”