+62851-0461-2299

Satu Jarum Sepuluh Menit Menghancurkan Tumor

Blog - October 03,2019 00:00 WIB

Post

 

 

28 November 2018, Ibu Mu dari Xiamen akhirnya bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan Kepala RS Prof Niu dan juga Dr Long Xinan yang mengunjungi kamarnya. Ibu Mu meminta Prof Niu untuk memeriksa keadaannya sebelum ia meninggalkan rumah sakit. Dan Prof Niu mengatakan bahwa ia sudah boleh pulang dalam 3 hari kedepan. Ibu Mu pun terkejut dan berkata “Dok, saya baru saja melakukan cryoterapi kemaren apakah saya tidak perlu dirawat setidaknya seminggu lagi?” Tetapi ketika ia yakin bahwa ia sudah boleh pulang 3 hari setelahnya, Ibu Mu tersenyum dengan bahagia. Dan suami disampingnya mengucapkan terima kasih kepada staf medis yang telah merawatnya.

 

 

Ia Menolak Pengobatan Gratis di Selandia Baru

 

Ibu Mu yang berusia 69 tahun tinggal di Selandia Baru bersama putranya sejak dia pensiun, hingga mendapatkan Kartu Kependudukan walau terkadang ia masih harus kembali ke Xiamen. Pada bulan Juli 2018, ia kembali ke Xiamen dan hidup sendirian. Ketika sedang menonon TV ia melihat “Kedua Paru Seperti Kaca.” Kata- kata ini sangat terngiang di kepalanya, karena pada Maret 2018, berdasarkan hasil CT scan diteukan nodul kaca pada lobus kanan bawah dan lobus kiri parunya. Tetapi saat ini ia belum mengalami sesak nafas, karena ia masih bisa manarik nafas panjang. Tetapi dokter menyarankan supaya ia tetap harus mengawasi penyakitnya itu dan tidak boleh mamandang remeh. Oktober 2018, ia kembali melakukan pemeriksaan CT di rumah sakit setempat, dan menemukan bahwa lesi tesebut membesar, dan kepadatannya juga meningkat. Peningkatan kepadatan mengindikasi bahwa penyakit ini berkembang dengan cepat.

 

 

 

 

Nodul seperti kaca di parunya merujuk pada nodul yang berasal dari gas di paru- paru. Lesi tersebut tumbuh di sepanjang alveoli tanpa merusak alveolar, namun kepadatan yang meningkat menunjukkan adanya abnormalitas. Nodul kaca yang khas seperti nodul prakanker atau kanker paru stadium awal.

 

Hasil pemeriksaan membuat ibu Mu tidak tenang. Ia segera menelepon anaknya untuk mencarikan rumah sakit terbaik untuknya di Selandia Baru. Tetapi perawatan yang ditawarkan membuatnya tidak nyaman dan khawatir. Ia memang memiliki lesi di kedua parunya, tetapi masih termasuk stadium awal karena lesi tersebut tidak lebih dari 6 mm. Nodul yang diangkat melalui pembedahan untuk pemeriksaan patologi sulit mengambil lesi tersebut dengan jarum biopsi karena ukurannya yang kecil. Sehingga dokter tidak mau mengambil resiko dan diputuskan untuk dilakukan operasi, karena kemungkinan besar (60- 70%) lesi ini adalah ganas. Jika hanya mengambil bagian kecil saja makan akan suli untuk menemukan ndul selama operasi. Terlebih tidak mungkin langsung mengambil nodul yang ada di 2 tempat berbeda secara bersamaan. Saran dokter ini mematahkan semangatnya, tetapi ia mendengar bahwa dengan cryoablasi dapat membekukan nodul pada kedua paru- parunya, tetapi teknologi ini masih belum ada di Selandia Baru, sehingga ia menolak perawatan yang disarankan oleh dokter Selandia baru, walaupun tidak dipungut biaya. Dan Ibu Mu dengan tegas berkata kepada anaknya bahwa ia tidak akan pergi ke Selandia Baru untuk perawatan.  

 

 

 

 

Dilarikan ke RS Kanker Fuda

 

Kemudian Mu dan anaknya mendengar cryoablasi yang ada di RS Kanker Fuda untuk nodul paru- paru, tanpa harus melakukan operasi pembedahan. Ibu Mu pun seperti mendapat harapan baru, lalu ia segera menelepon RS Fuda untuk berkonsultasi. Rencana perawatan yang diberikan dokter tim ahli membuatnya sangat puas. Ia segera menaiki kereta dari Xiamen selama 5 jam menuju RS Fuda di Guangzhou.

 

Setibanya ibu Mu di RS Fuda, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Prof Niu dan Dr Long Xinan. Dr Long menjelaskan bahwa “Pada lobus kanan bawah dan kiri atas parunya terdapat sebuah nodul seperti kaca. Lesi kanan bawah pada paru kanan mengarah kepada keganasan. Pembedahan pada 2 paru memiliki dampak dan trauma yang besar bagi pasien terutama yang sudah berusia lanjut. Dalam hal ini cryoalasi dapat membunuh jaringan tumor sejak awal.” ketika ibu Mu mengetahui bahwa ia akan memasuki ruang operasi esok hari, perawat yang melihat kekhawatirannya berinisiaif mengajaknya berbicara. Dan menggenggam tangannya dengan erat untuk memberi dukungan hingga Mu merasa tenang.

 

 

 

 

Cryoablasi Nodul Paru Kanan

 

26 Oktober 2018, Ibu Mu memasuki ruang perawatan minimal invasif. Anestesi umum pun dilakukan, lalu argon- helium cryablasi dilakukan dibawah pengawasan CT. Dalam posisi tengkurap, nodul di dekat pleura adalah target cryoablasi. Jarum dengan akurat ditusukan ke nodul paru- paru kanan, dan pembekuanpun dimulai. Setelah 2 siklus pembekuan selama 5 men it, CT scan menunjukkan bahwa nodul paru berhasil diatasi. Darah yang keluar saat operasi hanya 2 ml saja. Setelah perawatan tidak ada rasa tidak nyaman, dan tanda vitalpun stabil.

 

 

 

 

Setelah tiga hari menjalani pengobatan simptomatik, Ibu Mu pulih sepenuhnya dari prosedur ablasi tanpa komplikasi. Iapun dengan senang hati meninggalkan rumah sakit.

 

Prof Niu menjelaskan bahwa saat ini semakin awal seseorang menemukan adanya nodul pada paru- paru, untuk pasien yang tidak cocok dioperasi, atau sisa nodul walau setelah operasi, maka cryoablasi merupakan pilihan perawatan yang sangat baik untuk dilakukan.