0851-0461-2299

Seorang Guru yang Mendapat Keajaiban

Blog - June 19,2019 00:00 WIB

Post

 

8 Maret 2016, RS Kanker Fuda berhasil menjadi rumah sakit pertama yang melakukan Nano-knife pada 100 kasus. Salah satunya ialah seorang guru perempuan asal Denmar bernama Gurli yang berumur 68 tahun. Dalam sebuah pemeriksaan fisik, ditemukan tumor Neuroendokrin dalam livernya. Sekali lagi ia datang berobat ke RS Kanker Fuda untuk melakukan perawatan Nano-knife. Ablasi jarum dilakukan sekali pada tiga tempat sekaligus. Pada 17 Maret, Gurli diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kedatangannya kali ini merupakan kunjungannya yang kesepuluh sejak tahun 2008. Sebelumnya ia juga sudah pernah menjalani cryoablasi dan juga Nano-knife, setelah kedua perawatan komprehensif tersebut ia telah bertahan hingga delapan tahun.

 

 

 

Divonis Mati

 

Pada tahun 2007, Gurli asal Denmark sering merasa nyeri perut pada bagian ulu hatinya. Hasil pemeriksaan menunjukkan, pada pankreas terdapat tumor berdiameter  2,8 cm, dan pada liver terdapat 3 titik. Penemuan tak terduga ini merupakan pukulan keras baginya. Di rumah sakit terbesar di Denmark, ia menjalani biopsi. Setelah satu minggu hasilnya menunjukkan: Tumor ganas pankreas dengan 3 titik metasasis. Dokterpun segera memberitahunya dan berkata bahwa ia bisa saja memilih untuk menjalani kemoterapi, tetapi tidak peduli pengobatan apa yang akan dijalani, hidupnya hanya tinggal 2- 3 bulan saja.

 

Iapun akhirnya menerima kemoterapi, walaupun ia tahu bahwa pengobatan itu tidak akan bisa mengobatinya. Namun hal ini merupakan pengobatan yang harus dijalani oleh penderita kanker. Tiap hari ia mengkhawatirkan tentang efek samping dari pengobatan itu. Hingga rambutnya rontok, ia sudah siap untuk meninggalkan dunia ini, ia tidak mau membiarkan suami dan anaknya ikut menderita bersama.

 

 

Harapan Baru

 

Suami Gurli adalah seorang desainer, Mereka memiliki dua anak perempuan, 4 cucu. Keluarganya masih tidak bisa menerima vonis yang diberikan dokter. Mereka ingin membawa Gurli untuk berobat di luar negeri. Anaknya pun mulai mencari artikel- artikel yang relevan mengenai kanker pankreas, dan semuanya menuliskan bahwa tidak ada pengobatan lain selain kemoterapi, dan prognosis pasien hanya sekitar 3-6 bulan saja. Membaca artikel- artikel tersebut, air matapun membanjiri wajahnya, iapun menangis dengan sekeras- kerasnya. Beberapa hari kemudian, ia menemukan sebuah artikel di internet mengenai Lena, seorang pasien oseteosarkoma pada kondrosit toraks yang menceritakan pengalamannya, saat di Denmark ia menjalani operasi, namun setelah operasi kankernya terus bertumbuh hingga kakinya mengalami paralisis. Akhirnya ia pergi berobat ke Guangzhou untuk menjalani cryoablasi dan kankernyapun dapat terkontrol. Anak Gurlipun segera pergi menemui Lena untuk berkonsultasi, sebelum memutuskan untuk berobat ke Cina juga.

 

Dokter Denmark yang mendengar bahwa Gurli bersiap untuk berobat ke Cina berkata “Mereka sudah gila!” Namun tanpa menghiraukan perkataan dokter tersebut ia memutuskan untuk tetap pergi. Ia dan suaminya menjual rumah mereka di kota besar Kopenhagen dan membeli sebuah apartemen kecil, sisa uangnya digunakan untuk terbang berobat ke Guangzhou, Cina.

 

 

 

 

Sebuah Keajaiban.

 

Setibanya di RS Kanker Fuda, Guangzhou, Tim Medis yang telah berunding segera melakukan cryoablasi dan penanaman partikel biji Iodin. Setelah sebulan, Gurli kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan saat kembali melakukan pemeriksaan ia membawa 3 buah hadiah; hadiah pertama ialah koran terbesar di Denmark yang menceritakan dengan detail pengobatan di RS Kanker Fuda, hadiah kedua sebuah CD, yang direkam oleh jurnalis asal Denmark pada saat mengikuti perkembangan pengobatan yang dijalani Gurli, hadiah ketiga yaitu hasil pemeriksaan CT scan terbarunya. Kanker pankreasnya sudah jauh lebih mengecil 2/3 dari sebelumnya, metastasis di hati juga menghilang.

 

Ternyata berita mengenai Gurli berobat di Guangzhou menarik perhatian wartawan Denmark, hingga menjadi berita menarik dan propaganda, dan akhirnya Gurli menjadi selebriti Anti-kanker di Denmark. Ia juga menjadi anggota asosiasi persahabatan antara Denmark- China. Di Denmark, ia sering mendapat undangan untuk berpidato; “Cina adalah rumahku” Sehingga banyak orang di Denmark yang lama- lama mengenal rumah sakit Fuda. Dari 2008 hingga sekarang sudah ada 100 orang pasien kanker asal Denmark yang berobat di Guangzhou.

 

Tahun itu, Prof Xu Kecheng diundang untuk datang ke Denmark, “Saat turun dari pesawat, saya bisa melihat Gurli dan temanya menjemput saya dengan bendera merah berbintang lima. Saya langsung merasakan bahwa menjadi dokter asal Cina juga mewakili negara saya. Melihat seorang pasien membawa bendera Cina untuk menyambut saya, sangat bermartabat, saya sangat bangga” ucap prof Xu Kecheng.

 

 

Tayang di CCTV

 

Mei 2014, Gurli bersama Prof Xu Kecheng mewakili RS Kanker Fuda bersama- sama pergi ke Beijing. Pada 22 Mei, Komite Nasional memberikan penghargaan kepada Prof Xu Kecheng Dekan Kepala Kehormatan dengan gelar “Model Waktu”, yang tayang pada saluran CCTV. Gurli yang hadir sebagai tamu istimewa duduk di tengah- tengah bagian depan penonton. Tuan rumah yang terkenal Jing Yidan memimpin acara tersebut. Ketika layar memutarkan video perjalanan Gurli sedang melalui pengobatan dan hendak berjuang melawan kanker, kamerapun langsung terarah padanya yang sudah dibanjiri air mata.

 

 

 

 

 

 

Dua minggu kemudian, acara tersebut disiarkan, hari kedua setelah berita tersiar, wartawan- wartawan koran serta televisi datang untuk mewawancarai Prof Xu Kecheng. Tertangkap juga sebuah lukisan Gurli, Gurli menjadi sangat senang.

 

 

Sering- Sering Kembali Pulang

 

3 Agustus 2015, Prof Xu pagi- pagi sudah berada di lantai 4 menengok ranjang nomor 25, yaitu Gurli yang baru saja tiba di Guangzhou untuk melakukan pemeriksaan rutin. Iapun terbagun dari ranjangnya langsung berdiri dan memeluk Prof Xu dengan erat. Saling memandang Gurli pun bertanya “Apa Kabarmu?” dalam bahasa mandarin dan Prof Xupun menjawab “Sangat baik, kamu?”

Gurli “Bagaimana menurutmu, baik apa tidak!” wajahnya yang berwarna merah segar sangat “menakjubkan” tidak seperti layaknya pasien yang sakit.

 

Kali ini adalah kali kedelapan kedatangannya di rumah sakit kami. Dan juga hari ulang tahun cucunya yang ke 17. Gurlipun berkata bahwa rumah sakit kanker Fuda adalah rumahnya di China. Ia ingin cucunya merasakan rumah keduanya di China.

 

 

Hidup Berdampingan Dengan Kanker.

 

Gurli baru- baru saja menemukan tumor neuroendokrin di hatinya pada ketiga titik dengan ukuran 5 cm, 4 cm, dan 2 cm. Sekali lagi ia datang ke RS Kanker Fuda untuk pengobatan, karena tumor lebih besar dan juga berdekatan dengan septum hati dan juga struktur penting dari hillar hati. Prof Niu Lizhi memtuskan untuk menggunakan teknik dengan keamanan yang sangat tinggi, efek samping paling sedikit yaitu ablasi Nano- Knife.

 

Ablasipun dilakukan pada 8 Maret 2016, dibawah panduan CT scan, Prof Niu memasukan dua jarum Nano-knife pada tumor yang paling besar terlebih dahulu hingga mati, lalu mengarahkan jarum pada dua tumor lainnya hingga mati. Dari layar dapat terlihat jelas bahwa tumor yang dialiri aliran listrik sudah berubah warna hitam ang menunjukkan nekrosis, dan ada bebrapa gelembung kecil yang terbentuk. Tumor yang tadinya menunjukkan densitas yang tinggi sekarang berubah menjadi densitas yang rendah. Tiga tumor di hati Gurli meleleh dalam sekali tindakan, operasipun berjalan dengan lancar.

 

 

 

 

 

 

Prof Xu berkata; “Dari serangkaian pengbatan Gurli, Saya merasakan 4 pemikiran yang berbeda- beda. Pertama Perawatan komprehensif Fuda yang terus ditingkatkan adalah untuk kelangsungan hidup pasien kanker stadium lanjut. Dua semua metode pengobatan kami berasal dari Barat, yang kami kembangkan dan modifikasi untuk merawat pasien dari Barat, sehingga menempati urutan Pertama di dunia, dan merupakan manifestasi dari ilmu kedokteran di Cina. Ketiga, Gurli sekarang menjadi dewan persahabatan antara Denmark- Cina, dan di Denmark ia juga berkata  bahwa Cina adalah rumahnya, RS Fuda juga lebih dikenal oleh banyak orang dari mancanegara. Keempat, melalui Fuda, Gurli mendapatkan kesempatan hidup lebih panjang hingga lebih dari 11 tahun. Ia berhasil ‘Hidup berdampingan’ dengan kanker.