0851-0461-2299

Perjuangan Seorang Ibu Dari Sabah

Blog - March 19,2019 00:00 WIB

Post

 

 

Seorang pasien asal Sabah, Malaysia bernama Dayang Mahani, sedang duduk diatas sofa putih sambil berbincang- bincang. Dengan kulitnya yang terlihat pucat ia menggunakan baju berwarna ungu bunga- bunga, disinari dengan sinar matahari pagi yang memancar lewat kamar jendela, yang luar biasa cerah dan mempesona. Dibawah sinar matahari ada terlihat mata ibu Mahani yang jernih dan penuh semangat, dengan kelembutan Mahani menceritakan kepada kami kisahnya dari Sabang, Malaysia.

 

 

Dayang Mahani adalah seorang Muslim yang taat dan saleh dari kota Pantai Indah Sabah, Malaysia. Pada bulan Juli tahun ini, datanglah berita buruk itu yang menghancurkan kebahagiaan dan hidupnya yang tenang dan damai…

 

 

Kabar buruk

 

Pada sebuah acara, tiba- tiba saja Mahani jatuh pingsan, disertai pendarahan usus, ia langsung dilarikan ke rumah sakit setempat untuk diperiksa lebih lanjut. Tidak ada yang menduga setelah serangkaian ters pemeriksaan seperti: pemeriksaan darah, endoskopi, dll. Kabar buruk itupun datang, dia didiagnosis kanker usus besar.

 

 

"Pada saat itu, hidup saya benar-benar berubah, seolah-olah ajal telah datang menghampiri," kata Mahani kepada wartawan.

 

 

Diketahui bahwa Mahani telah mengalami anemia mendadak sejak Februari 2015. Karena Ia memiliki riwayat gagal ginjal selama bertahun-tahun, anemia adalah hal biasa untuknya, sehingga ia tidak terlalu memperdulikannya. Tak diduga pada awal bulan Juli tahun lalu, penyakit berikutnya yang datang adalah kanker.

 

 

Pada hari-hari berikutnya, Mahani mendatangi sejumlah rumah sakit di Malaysia dan melakukan banyak tes pemeriksaan. Dokterpun menemukan bahwa selain memliki tekanan darah tinggi dan diabetes, ia juga memiliki gagal ginjal, sehingga dokter tidak bisa melakukan operasi pengangkatan kanker usus yang membutuhkan waktu setidaknya 7 jam, mengingat kondisi Mahani tersebut.

 

Dokter Malaysia percaya bahwa resiko untuk operasi pengangkatan usus besar Mahani memiliki resiko yang sangat besar, ia kemungkinan akan mati karena gagal ginjal.

 

 

Pernyataan dokter seperti vonis yang menghancurkan hidupnya. Mahani merasa putus asa, kebingungan dan ketakutan terhadap penyakit tersebut. Akhirnya ia mencoba pengobatan herbal dan metode- metode alternatif lainnya. Mahani berkata “Saya baru merasa kalau hidup ini sangat berharga, orang hanya punya sekali kesempatan untuk hidup. Saya tidak ingin mati seperti ini, apa lagi yang bisa saya lakukan?”

 

 

 

 

 

Harapan untuk Sembuh

 

 

Setiap pagi, Mahani membaca Alquran, dan dia percaya bahwa Allah dapat membawa cahaya dan kesembuhan kembali. Suatu hari, adik Mahani di rumah sedang menonton TV dan tiba-tiba berteriak: "Coba lihat TV!" Tampaklah Chiang kai-shek TV sedang menyiarkan RS Kanker Fuda mengenai terapi nano-knife, tapi sayangnya Mahani hanya menonton bagian akhirnya saja.  Saya hanya ingat nama  Fuda, lalu segera membuka internet untuk mencari informasi ‘Fuda’ secara online

 

 

“Sayapun segera mencari Fuda di internet, saya melihat banyak pasien yang sukses menggunakan nano-knife. Lalu saya memberi tahu suami saya untuk segera menghubungi rumah sakit tersebut.” Kegembiaraanpun sulit disembungikan di wajah Mahani, karena baginya, mungkin saja metode ini menjadi kesempatan terakhir dan penting untuknya. Jadi ia tidak ingin mengabaikannya, Mahanipun segera mengirimkan semua hasil pemeriksaan sambil menunggu balasan.

 

Waktupun berlalu, menunggu membuat Mahani merasa cemas. Beberapa hari kemudian akhrinya ia dihubungi perwakilan RS Kanker Fuda Malaysia. Setelah tim meninjau diagnosis CT Mahani, dokter di RS Fuda berpikir bahwa kondisinya dapat dikendalikan dengan operasi. Setelah mendengar balasan tersebut, Mahani langsung memutuskan untuk pergi ke Guangzhou.

 

 

Perawatan bedah

 

 

Pada bulan September 2018, Mahani dan keluarganya datang ke Guangzhou, Cina, ribuan kilometer jauhnya dari Sabah, Malaysia. Sesampainya di Guangzhou, kondisi Mahani sangat kritis.Staf medis Rumah Sakit Kanker Fuda langsung melakukan pemeriksaan rinci pra operasi untuknya.

 

 

Menurut dokter yang manangani Shi Juanjuan: "ketika pertama kali dirawat di rumah sakit Mahani memiliki obesitas. Indeks BMI lebih besar dari 35, pendarahan pada usus, diabetes, hipertensi, insufisiensi ginjal yang memerlukan cuci darah, hingga koma yang tidak bisa dijelaskan. Segala komplikasi tersebut menjadikan operasi dengan resiko yang sangat tinggi.

 

Sebagai kepala ahli bedah di RS Fuda, Prof Niu. Lizhi selaku direktur juga sangat berhati- hati dalam menangani hal ini. “saya harus menimbang bahwa kondisi fisik pasien tidak dapat mentoleransi laparotomi, ataupun operasi tradisional lainnya. Diperlukan operasi dengan minimal invasif dengan waktu pengerjaan juga seminim mungkin, tidak bisa terlalu lama.” Setelah merencanakan perawatan Mahani matang- matang, dijadwalkanlah operasi untuk Mahani pada 27 September.

 

Meskipun mengetahui bahwa operasi ini memiliki resiko yang sangat tinggi, Mahani tetap bersedia untuk menjalaninya. “Saya ingin memiliki hidup yang berkualitas dan tidak ingin hanya duduk di kursi roda saja” katanya. 

 

Pagi hari 27 September 2018, Mahani memasuki ruang operasi, sambil terus memanjatkan doa dan berharap bahwa operasi akan berjalan dengan lancar, Mahani mulai mengenang; “Sebelum menuju meja operasi saya berkata kepada dokter bahwa jika saya sudah tidak sadar selama operasi, tolong jangan selamatkan saya. Karena saya tidak ingin keluarga saya untuk terus menungu saya” katanya sambil meneteskan air mata.

 

 

Suasana ruang operasipun menjadi menegangkan, tim bedah yang dipimpin oleh Prof. Niu Lizhi melakukan laparoskopi gabungan untuk melakukan reseksi tumor pada usus besar. Dikarenakan pasien telah melakukan operasi sebelumnya, sehingga terdapat perlekatan usus, sehingga harus menggunakan laparoskopi dan tangan untuk memisahkan usus yang melekat satu sama lain. Prof Niu juga memberikan perhatian khusus terhadap semua aspek prosedur bedah, terutama hemodialisis setelah operasi.

 

 

27 September pukul 11.00 siang, keluarga menunggu dengan cemas di luar ruang operasi. Setelah lebih dari 2 jam, operasi berhasil diselesaikan. Semua staf medis beserta keluarga Mahani akhirnya dapat menghela napas lega. Setelah ia sadar dari pengaruh anestesinya, ia mengeluarkan air mata dan berdoa “Terima Kasih Tuhan, aku masih hidup!”

 

 

Di balik kesuksesan operasi

 

 

Prof. Niu Lizhi berkata selama operasi mereka terus berusaha dan memastikan bahwa tanda vital Mahani tetap stabil selama operasi. Persiapan matang sebelum operasi , serta kerja sama dan peralatan canggih juga menentukan faktor keberhasilan operasi kali ini. Sebagai contoh pasien memerlukan dialisis ginjal selama operas, berkat dukungan peralatan yang canggih, serta dukungan tim medis yang pengalaman menjadi salah satu faktor utama.

 

“Keberhasilan operasi ini telah membawa level teknik tim bedah kami ke selangkah ke level yang lebih atas. Kami brehasil melakukan operasi yang tidak dapat dilakukan oleh rumah sakit lain. Ini adalah hal yang sangat menarik” kata Prof Niu penuh semangat.  

 

Dua minggu kemudian, Mahani dan keluarganya mengepak tas mereka dan kembali ke kampung halaman mereka. Mahani merasa sangat berterima kasih atas pnegalaman perawatan di RS Fuda. Meskipun setiap orang datang dari berbagai negara dan berbicara dalam bahasa yang berbeda, namun hati Mahani dapat bersatu.