0851-0461-2299

Perjuangan Melawan Kanker

Blog - March 16,2019 00:00 WIB

Post

Lesung yang ternyata Kanker

 

Begitu tahu diriku, survivor kanker payudara, orang pasti bertanya mengenai gejala yang kurasakan hingga didiagnosis dokter penyakit yang menyeramkan itu. Seperti pasien kanker payudara lainnya hal yang pertama kali aku rasakan adalah keberadaan benjolan di payudara

Persisnya bukan hanya benjolan. Aku juga melihat ceruk di payudara sebelah kanan. Cerut itu mirip lesung pipi yang merekah saat aku tersenyum. Lalu aku memeriksakannya ke rumah sakit di Jakarta

Dokter meraba benjolan itu agak lama, dan kulihat dokter mengernyit. “Benjolan ini bentuknya sudah tidak karuan Bu” ucap dokter pelan.

“Maksud dokter?” tanyaku heran.

“Hanya terasa tajam dan keras, tidak ketahuan bentuknya, bulat atau lonjong. Sepertinya ini tumor ganas Bu” kata dokter mencoba menjelaskan perlahan- lahan.

“Kanker maksudnya dok?” aku bertanya panik.

“Sepertinya demikian Bu, dan sepertinya ini sudah masuk stadium 2B”

Hah? Apa?

Ucapan dokter membuat otakku secepat kilat memunculkan tentang koko- kokoku yang meningal karena kanker. Ketika itu kakakku sedang melakukan pemeriksaan rutin. Ternyat hasil check up menyimpulkan ada sel kanker yang menggerogoti livernya. Tak lama hanya dalam waktu dua minggu koko harus meregang nyawa karena mengalami pendarahan hebat.

Sungguh menakutkan! Ya kanker begitu menakutkan. Begitu menerima vonis kanker, seolah tak ada yang bisa terdakwa lakukan kecuali menunggu kapan ajal menghampirinya. Pelan- pelan aku berbisik dalam hati, Tolong aku, Tuhan. Aku tahu Kau tidak pernah meninggalkanku.

Suara dokter membuyarkan ketakutanku. Ia memintaku melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan benjolan di payudaraku. Caranya dengan menggunakan USG dan mamografi. Dokter juga memberiku surat rujukan untuk melakukan biopsi supaya bisa mengetahui stadium kankerku.

Suamiku Herkulanus menyarankan agar aku memeriksa ke dokter lain. Ini sebagai cross check guna memastikan tidak ada kesalahan pada diagnosis pertama. Akupun pergi ke rumah sakit kanker payudara di Jakarta. Kenyataan tetap berkata sama. Dokter ahli kanker payudara itu menjelaskan serangkaian tindakan yang bakal kuhadapi. Tidak ada hal positif tentang kanker dan kemoterapi. Semuanya hitam, kelam dan menyeramkan.

Herbal? Memang sih banyak cerita sukses yang kudengar tentang penanganan kanker dengan obat- obatan herbal. Kenapa tidak? Mari hadapi kanker dengan herbal ketimbang medis ucapku dengan penuh keyakinan.

 

 

Setahun hrebal, Kankerku semakin parah

 

 

Setahun berlalu dari 2004, saat vonis kanker kuterima- pengobatan kanker dengan herbal tidak memberikan perubahn berarti. Tapi ahli herbal meyakiniku memang seperti itulah proses pengobatan menggunakan ramuan tertumbuhan.

Lesung di payudaraku berubah wujud seperti kulit jeruk kering yang keriput. Aku tetap telaten meminum ramuan herbal. Hingga pada satu hari kulit payudaraku yang mengerut itu terlepas dan menyebabkan pendarahan.

Karena tidak disertai rasa sakit dan bau, aku tidak terlalu memusingkannya. Ahli herbal yang menanganiku memberi tahu bahwa itu reaksi normal. Untuk menampung darah yang keluar dari payudara. Aku menggunakan breast pad yang biasa dipakai ibu menyusui.

Aku ingat ketika sedang mewarta di Baucau, Timor Leste pendarahan itu melebar. Saat bangun tidur bajuku dipenuhi darah. Tapi aku tidak panik karena aku tetap fit dan segar. Saat tiba di Jakarta aku kembali menemui ahli herbalku. “pak, pendarahannya terus melebar. Bahkan sekarang sudah hampir menyentuh puting, koq begini ya?” tanyaku penasaran.

“memang begitu reaksinya. Beberapa kasus yang sama dengan ibu juga seperti itu. Lama- lama jaringan kankernya habis dan ibu sembuh.”

“ini baru setengahnya pak? Jadi saya harus menunggu lagi?”

“Jalan kankernya sudah saya perlambat”

Lambat namun bukan berarti berhenti. Bisa- bisa aku keburu sampai stadium terminal. Kepalaku mulai berpikir tepatkah aku melakukan pengobatan ini?

 

Tuhan ingin aku berhenti bermain- main.

 

Pada 2005 ku menjadi panitia dalam sidang agung Gereja Katolik seluruh Indonesia. Uskup memintaku mengembangkan gereja basis, namanu aku merasa kondisiku menjadi keterbatasan.

“Sepertinya saya hanya bisa bekerja satu atau dua tahun. Tapi selama itu saya akan mengkader orang untuk pengganti saya.”

“lho kenapa?” taya Uskup bingung.

“Saya kena kanker Pak” jawabku lirih.

Aku memang tidak pernah menceritakan penyakit ini pada siapa- siapa. Uskupun kaget mendengar ceritaku. Ia bertanya mengenai langkah pengobatanku. Dan iapun makin kaget campur marah mendengar aku menjalani pengobatan herbal hampir setahun lebih.

“Penyakit seperti ini harus segera ditangani secara medis. Kau harus segera berobat. “ pesan Uskup tegas. Pulang ke rumah aku terbatuk- batuk mengingatkanku akan perkataan dokter bahwa kankerku begitu dekat dengan paru-paru.

Ketimbang ketakutan sendiri akupun memeriksakan diri ke rumah sakit kanker di Jakarta. Aku minta bone scan atau pemeriksaan tulang untuk melihat apa terjadi penyebaran. Dokter kaget melihat darah yang terus keluar, bahkan puting payudaraku nyaris putus.

Puji Tuhan pemeriksaan tulang menyatakan sel kanker belum ada di tulang, tetap terfokus di payudara kananku saja. Dokter menjalankan melakukan kemoterapi tiga kali, operasi pengangkatan payudara, lalu ditutup dengan kemoterapi. “saya perlu waktu untuk berdiskusi dengan suami dok” kataku.

Sesampainya di rumah, aku dengan suami sepakat untuk menjalani pengobatan secara medis. Kamipun berkonsultasi dengan seluruh keluarga besar, termasuk adik sepupuku Maria Beneditta yang tinggal di Guangzhou kebetulan sedang bermain di Jakarta. Mendengar aku mau berobat secara medis ia menceritakan rumah sakit yang ada disana.

 

 

 

Percaya 100% terhadap tim dokter FUDA.

 

 

Nama rumah sakit itu adalah FUDA Cancer. Dari Maria aku tahu, rumah sakit ini memiliki metode terbaru dalam penanganan kanker, cryosurgery.

Mari bercerita antusias bahwa cryosurgery mematikan sel kanker dengan metode pembekuan dan pemanasan. “Sudah banyak penderita sembuh dari kanker karena metode ini. “ Maka aku sepakat ikut Maria ke Guangzhou. Dengan berat hati aku meminta suamiku tetap di Jakarta saja. Karena bagaimana pun kami tetap harus memperhitungkan kondisi keuangan dengan cermat

Sesampainya di FUDA enam dokter langsung memeriksaku. Penanganan dokter secara tim membuatku yakin kasusku didiskusikan seksama, tak hanya berdasarkan keputusan satu dokter semata. Aku yakin Tuhan mengantarku ke rumah sakit yang tepat.

Dengan bahasa mandarinku yang pas- pasan, namun aku menangkap reaksi dokter saat melihat payudaraku. Dari Maria aku tahu bahwa mereka bertanya mengenai obat- obatan yang telah kukonsumsi. Maria tak menjawab banyak, hanya bilang “ia tdak ke dokter hanya pakai herbal.”

Jawaban itu membuat para dokter marah luar biasa “Kamu tidak tahu ini penyakit apa? Kamu sembarangan sekali.”

Secara kasat mata dokter memperkriakan kankerku sudah menyebar. Ini membuat Maria panik, sedangkan aku tidak merasa demikian. Setelah seluruh hasil pemeriksaan kluar, ketua tim dokter Niu Lizhi,, MD, PhD menghampiriku dengan wajah semrigah. “Ada kabar baik.”

Akupun bertanya dengan bahasa mandarin terbatas “Apa?”

“kankernya belum menyebar, masih terkonsentrasi di payudara. Mestinya kalau melihat kondisimu, penyebaran sudah terjadi. Tapi ini tidak sama sekali.“ Selanjutnya ia menjelaskan bahwa aku harus menjalani kemoterapi lokal yang kemudian diikuti dengan cryosurgery. Lebih detail ia menjelaskan bahwa kemoterapi lokal akan dialirkan dari arteri paha dan langsung menuju sel kanker. Ini memperkecil sel- sel tubuh sehat terkena efek samping obat kemoterapi.

Meski sudah dijelaskan aku sedikit takut ketika menghadapi kemoterapi lokal pertama. Bayangan mual dan rambut rontok menyergapku. Melalui monitor aku bisa melihat bagaimana obat kemmoterapi secepat kilat mengubah warna sel kanker dari merah menjadi pucat. Ini membuatku semakin yain bahwa pengobatan ini efektif melemahkan sel kanker yang sudah setahun lebih menggerogoti payudar kananku.

Begitu sampai di kamar tak kuat menahan rasa mual yang mulai menyerang aku muntah berkali- kali. Rasa mual mebuatku tidak bisa makan selama lima hari setelah kemoterapi

 

 

 

Rumah sakit serasa Rumah sendiri.

 

Setelah kemoterapi pertama aku menjalani cryosurgery. Saat cryosurgery diketahui sel kanker ada yang menempel di tulang rusuk. Dokter Niu bilang tulang rusukku perlu dioperasi, tap isetelah aku merampungkan kemoterapi yang tersisa.

Melihat adanya tanda- tanda penyebaran Dokter Niu merekomendasikan dua kali kemoterapi sistemik dari total enam kemoterapi yang harus kujalani. Dengan dilakukannya kemoterapi sistemik membuat sel- sel sehat terkena imbasnya hingga menjadi rusak.  Resiko rambut rontokpun bertambah. Namun rambutku termasuk kuta, meski rontok tidak sampai botak.

Namun aku tidak terhindar dari efek mual, karena pengaruh psikomatis yang kuat. Meski mengalami muntah hebat, aku justru mengalami kenaikan berat badan. Biasanya pasien diminta beristirahat 21 hari untuk menunggu kemoterapi berikutnya

Pada masa beristirahat aku tidak pulang ke Indonesia untuk menghemat biaya. Maria begitu telaten mengurusku. Keponakanku ini juga tidak keberatan jika harus bergantian mengurusku. Ya boleh dibilang pengobatan yang panjang menjadikan FUDA rumah keduaku. Hubungan dokter dan preawat sangatlah akrab. Tak hanya itu hubungan dengan para dokterpun sangat hangat. Dokter jagaku bernama Liang Bing. MD. Setiap ingin melihat dataku yang perlu kulakukan hanyalah datang ke ruangannya yang selalu terbuka. Aku bahkan bisa leluasa membuka berkasku di komputer Dokter Liang.

Aku terharu melihat para dokter dan perawat yang memeiliki hubungan egaliter. Situasi yang tak pernah kuduga ini membuatku sangat nyaman. Mereka mengajariku keterbukaan. Pelan- pelan aku belajar menerima bahwa penyakit ini tidak seram-- seram amat. Disini tersedia ruang berkumpul pasien dan keluarga penunggu pasien sehingga kami bisa berbaur dengan leluasa.

Ada pasien perempuan yang kerap bertemu denganku. Ia berusia 20 tahun dari Binjai, dan berobat didampingi ibunya yang punya selera humor luar biasa. Merekalah yang membuatku merasa rileks.

 

 

Tak ada jalan lain kecuali Operasi

 

Setelah melengkapi kemoterapi enam kali. Sokter Niu menjelaskan bahwa sudah tiba waktuku untuk menjalani operasi menutup payudara serta memotong tulang rusuk. Aku memohon kepada Dokter Niu agar tulang rusukku bisa dipertahankan. “Pasti kami usahakan”

Sebelu operasi aku berdoa khusyuk. Aku percaya Tuhan tidak menginginkan aku sakit. Dan doa ini terus kubawa pada setiap tindakan, termasuk saat aku harus berhadapan dengan meja operasi. Dokter menepukku lembut setelah aku sadar. Hal pertama yang dokter sampaikan adalah tulang rusukku berhasil dipertahankan. Mereka hanya membakar ujung tulang rusuk yang sudah ditempeli sel kanker.

Namun kanker bukan sel yang mudah menyerah setelah dua bulan operasi, ternyata tulang rusuk yang dibakar itu justru meletus hingga menimbulkan lubang luka pada payudaraku yang sudah ditutup sebelumnya. Dokter meminta rawat jalan untuk mengobati luka baru ini. Setiap hari aku harus ke rumah sakit agar dokter bisa membersihkan jaringan luka tersebut.

Sebulan berlalu tidak ada perubahan berarti pada letusan luka baru itu. Dokter Niu pun memutuskan untuk melakukan operasi. “Kami benar- benar minta maaf membuatmu menderita terlalu lama. Seharusnya dari awal kami memotong tulang igamu.” ucapnya penuh penyesalan

“tidak perlu minta maaf, toh aku minta dipertahankan. Kalian melakukan yang terbaik, tapi ternyata tidak cocok. Yah berarti tulang rusukku memang harus dibuang. Aku percaya kalian memikirkan keselamatanku. Jadi lakukan saja operasi itu” ucapku mantap.

Dokter Niu sangat fair dalam menghadapi luka ketusan di payudaraku. Permintaan maafnya yang tulus membuatku semakin respek. Ia dokter terbaik yang Tuhan kirimkan kepadaku. Karena ia tak hanya memikirkan cara menyelamatkanku juga menyemangatiku luar biasa.

Aku ingat ketika putus asa pada kemoterapi. Rasa mual membuatku muntah berkali- kali, membuat Maria panik. Dan aku merasa tidak enak, dan nekat ingin pulang ke Indonesia. Dokter Niu datang dan melarang dengan kata- katanya yang dalam “Kamu tahu kamu harus sembuh karena kesembuhan membuatmu dapat mewartakan kabar Tuhan lima puluh tahun lebih”

Ucapan dokter Niu benar- benar menyadarkanku akan rencana Tuhan terhadapku. Sebelum merasakan operasi pemotongan tulang rusuk, rumah sakit memintaku menandatangani surat yang menyatakan aku siap menerima tindakan pada paru- paru.

“kami perlu meminta tanda tangan ini sekarang untuk menghemat waktu. Jika memang sel kanker sudah ada di paru- paru kami tidak perlu menunggumu sadar kembali agar bisa meminta persetujuan dan baru melakukan tindakan. Terlalu lama sedangkan pergerakan sel kanker bisa lebih cepat daripada yang kita bayangkan”

 

 

 

Ternyata kankerku stadium 4

 

Operasi sukses! Dokter menyambutku dengan senyuman setelah menepuk- nepuk pundak untuk menyadarkanku. Awalnya aku dijadwalkan menjalani tiga puluh kali radiasi. Tapi mengingat kemoterapiku sudah terlalu lama lebih dari satu bulan, dokter membatalkan radiasi.

“Meski tidak diradiasi penanganan kankerku maksimal, kan?” tanyaku kepada tim dokter. Mereka menjelaskan bahwa radiasi dilakukan untuk melengkapi kemoterapi agar sel kanker benar- benar tak berdaya. Namun tindakan ini hanya efektif jka pengerjaannya berdekatan dengan kemoterapi.

Setelah benar- benar siuman aku menemukan sesuatu yang beru di bawah ketiakku. Semacam bekas luka yang menjadi keloid. Spontan aku meraba bekas luka serupa yang ada di punggung. Bekas luka tersebut disebabkan obat kemoterapi yang merembes ke luar pembuluh darah. Ternyata bekas luka di punggung sudah tidak ada.

Mengetahui hal ini membuatku kembali bersyukur betapa Tuhan begitu luar biasa menciptakan kulit manusia. Dan rasa syukurku berlipat ganda kteika dokter mengumumkan bahwa operasi berjalan sukses juga menjadi penanganan terakhirku untuk mematikan sel kanker yang bersarang di payudara kanan. Mereka mengingatkanku untuk menjalani pola hidup sehat selama 5 tahun pertama.

Mereka juga memintaku untuk menjalankan PET scan untuk mendeteksi gelagar kemunculan sel kanker. “Apakah itu berarti saya sudah bisa pulang?” Tim dokter kompak menjawab dengan senyum sumrigah. Setelah kurang lebih 8 bulan ditangani mereka, senyuman barusan menjadi hal terindah yang mereka beritakan padaku.

Dalam pelukan haru, Maria bercerita bahwa dari awal ia diberitahu para dokter mengenai kanker payudaraku yang ternyata sudah stadium 4. ia tidak sampai hati menerjemahkannya kepadaku. “Beruntung dokter Niu menahanku ya” ucapku kepada Maria dalam tangis kebahagiaan.

Titik akhir itu berupa kemoterapi yang sukses kujalani sebanyak enam kali, satu kali cryosurgery berupa operasi penutupan payudara, dan operasi pemotongan tulang rusuk. Aku selama ini mewartakan kebaikan Tuhan melalui mulut. Kini Dia ingin aku memberikan kabar gembira kepada semua orang melalui kesembuhanku.