0851-0461-2299

Ia Bangkit Lagi

Blog - February 19,2019 00:00 WIB

Post

Pagi hari 26 Januari 2019, saya terkejut melihat seorang pasien muda bernama Louis asal Filipin yang sudah terbangun dari tempat tidurnya hanya dalam waktu singkat setelah operasi. 

 

Saya ingat pertama kali bertemu dengan Louis pada 19 Juni 2018 silam di Pusat Medis Mekati, Manila ia masuk ke kantor saya didorong kursi roda oleh bibinya. Di usianya yang ke 22 dengan wajah tampan dan kening mengkerut, terlihat ekspresi kesedihan di wajahnya. Bibinya adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit besar di Manila. Setelah pemeriksaan dan konsultasi, ternyata pada Agustus 2017, ia menemuan gumpalan kecil di pinggul kanannya, namun tidak terasa sakit. Pada Maret 2018 tumor itupun terus bertumbuh. Berdasarkan pemeriksaan CT tumor di pinggul kanan berukuran 9,28* 9,15cm, pada humerus kiri , di sis medial tibia kiri tumor membesar hingga 15* 10,5* 10,1 cm di bulan April. Bulan Mei hasil biopsi menyatakan tumornya berjenis ‘osteosarkoma.’ Pasien berkata bahwa ahli bedah di Manila mengatakan tumornya sudah tidak dapat dioperasi, dan menyarankan kemoterapi serta radiasi. Rasa sakit dibokongnya akibat tumor yang juga menekan sarafnya sehingga ia mengalami mati rasa di bagian ekstremitas bawah, ia harus duduk di kursi roda. Untungnya kankernya belum menyebar, saya berkata karena tumor sangat besar, maka efek kemoterapi dan radioterapi tidak akan terlalu baik. Saya menyarankannya untuk pergi ke FUDA Cancer Hospital untuk cryoablasi sebelum melakukan kemoterapi dan radioterapi. Namun keluarga masih berharap supaya ia bisa melakukan radioterapi di negaranya, tetapi tidak ingin kondisi anaknya memburuk. 

 

Louis Pasien Penderita Osteosarkoma Dari Filipina

 

26 Oktober 2018, saya mengunjungi Louis di Manila yang sedang menyelesaikan radioterapi dan kemoterapinya. 4 Desember 2018 ketika sekali lagi saya kembali ke Manila, saya juga bertemu Louis yag dengan cemas menunggu di depan pintu kantor saya. Ia sudah menyelesaikan kemolokal dan radioterapinya, namun kondisinya semakin buruk. Hingga iapun harus mengkonsumsi Tramadol, obat penghilang rasa sakit dengan dosis tinggi setiap harinya. Iapun mengalami mati rasa pada kakinya yang lebih serius, penurunan berat badan hingga 7 kg dalam 2 bulan. Pemeriksaan CT menunjukkan tumor di bokong dan panggulnya berukuran 14,5* 17,1 dan tumor pinggul kanan mencapai 14,5* 12,7. Pria muda itupun datang dengan harapan terakhirnya. Melihat kondisinya yang memburuk sayapun juga merasa malu, ia terlihat lebih lemah dibandingkan sebelumnya. Tumor semakin membesar dan menyerang bagian sekitarnya. Setelah radioterapi dosis tinggi, organ disekitar tumor ikut rapuh. Semua ini mempengaruhi perawatan berikutnya yang menjadi lebih sulit dibanding sebelumnya. Namun ketika saya melihat semangatnya untuk bertahan hidup, saya tidak mau menyerah sebelum mencoba. Setelah berkomunikasi dengan orang tuanya, saya setuju untuk mengobatinya di RS Kanker kami. 

 

Gambar Hasil Penciteraan Tumor Pinggul Louis

 

20 Desember 2018, Louis beserta ibu, ayah dan bibinya datang ke rumah sakit kami di Guangzhou. Kamipun turut berdiskusi beberapa kali sebelum melakukan operasi setelah liburan tahun baru sekitar 3 Januari 2019. Wang Jiannan, ahli beda spesialis ortopedik paling berpengalaman di RS Kanker FUDA, bekerja sama dengan ahli bedah umum untuk mengangkat tumor pinggul besar berukuran 15 cm dan tumor panggul berukuran 18 cm, humerus. Operasi sulit inipun berjalan selama 7 jam, dengan omentum dan usus buntu ikut dipotong. Untuk menghindari kekambuhan tumor, cryoablasi argon- heliumpun dilakukan disekitar area pembedahan tumor, untuk mematikan sel- sel tumor yang sangat kecil hingga tidak terlihat oleh mata telanjang dengan pembekuan. Operasipun berjalan dengan lancar, darah yang terhilang sekitar 700 ml. 

 

Louis Berfoto Bersama Kepala Perawat Hu Fengqiong

 

Selama perawatan di FUDA Cancer Hospital, kepala perawat Hu Fengqiong, kepala dari 5 kabupaten, merawatnya dengan penuh cinta dan hati- hati. Bibi Louis sebelumny adalah seorang kepala perawat di Indonesia, dimana ia sepenuhnya merasakan profesionalisme dan dedikasi star medis FUDA Cancer Hospital. Ia berkata “Perawatan di Fuda benar- benar memiliki standar internasional. Komunikasi tidak menjadi masalah sama sekali disini. Perawatan suster disini membuat hati saya tersentuh.”

 

Louis Berfoto Bersama Keluarga dan Perawat

 

Sebelum festival imlek, ketika saya melihat bocah laki- laki itu dapat bangun dari tempat tidurnya dan hendak pulang kembali ke negaranya serta senyum di wajahnya bersama keluarga membuat saya sangat bersyukur.